Peluang Sulawesi Selatan sebagai Destinasi Wisata Keluarga Kelas Dunia (1)


Oleh Jones Sirait
Direktur Pusat Analisis Informasi Pariwisata

TIDAK ada satu keraguan sedikitpun untuk menyebut Sulawesi Selatan (Sulsel) menjadi salah satu dari beberapa daerah di Indonesia yang sangat serius dalam mengembangkan pariwisata. Hal itu antara lain dari upaya mereka dalam mengembangkan sektor transportasi udara, dan menjadikan daerahnya sebagai hub utama di bagian timur Indonesia;  melakukan serangkaian promosi dan kerjasama dengan pihak Singapura untuk pengembangan destinasi;  melakukan upaya cross promotion dengan daerah lain, mendorong program Visit South Sulawesi Year 2012.

Kemudian mengemas ulang destinasi dengan memunculkan destinasi-destinasi baru, mengembangkan interkoneksi antardaerah Sulsel dengan jangkauan penerbangan yang semakin luas; membuat prakarsa atau inisiatif event, mendorong lebih banyak pertemuan MICE, membentuk badan promosi dan lainnya. Barangkali apa yang telah disebutkan tadi masih sebagian saja, akan semakin banyak lagi jika dilihat per kabupaten/kota yang ada di provinsi ini. Termasuk yang mengagumkan, impian yang telah coba dirintis Pemkot Makassar untuk menjadikan ibukota provinsi ini menjadi “Singapura” –nya Indonesia. Bukankah itu sebuah impian yang jelas, dan perkembangan yang bagus jika dibandingkan dengan daerah lain yang bermimpi pun tidak berani?

Kita dapat memahami jalan pikiran mengapa semua itu dilakukan. Misalnya, terkait dengan pertanyaan mengapa harus pariwisata? Ada kesadaran, dan ini mendunia, bahwa “masa depan” akan sulit jika hanya mengandalkan resources yang sifatnya nonrenewable, seperti pertambangan dan energy. Disana ada kesadaran tentang pentingnya nilai tambah, yang berlaku jangka panjang, dimana kekuatan sumber daya manusia menjadi penentu bagi daerah untuk bersaing. Pariwisata, seperti kita pahami bersama, adalah sesuatu mengenai ekonomi berkelanjutan, sesuatu yang mendorong kualitas sumber daya manusia, yang memiliki kemampuan merembes ke sektor-sektor lain secara kuat. Pariwisata adalah sesuatu alat untuk memperbaiki infrastruktur, memperbaiki pelayanan public, mempertemukan kesejahteraan dengan kelestarian seni budaya, alam dan social; dan mempertemukan industry, perdagangan dan investasi. Disanalah kepentingan masa depan itu dapat bertemu.

Bahwa pada tahap awal ini semuanya tampak tidak mudah, tentunya dapat dimaklumi. Saya bisa merasakan pasti ada sesuatu yang “sedikit kelelahan” bagi para pemimpin daerah ini, ketika mengetahui bahwa hasil yang dicapai sejauh ini masih sangat jauh dari yang diharapkan.  Kadang juga masih muncul pertanyaan klasik, mana lebih dulu promosi atau infrastruktur, yang sebenarnya mirip dengan pertanyaan mana lebih dulu telur atau ayam? Bahkan ada juga yang bertanya sudah benarkah langkah sekarang? Mengapa, misalnya, sudah melakukan ini dan itu tapi dampaknya belum begitu signifikan?

Pertanyaan itu semakin mendapat pembenaran ketika mencoba untuk melihat angka kunjungan wisatawan mancanegara ke daerah sepanjang dua tahun belakangan.  Faktanya, untuk setiap bulannya Sulsel belum mampu mempertahankan kunjungan di atas 2.000 orang secara konstan, padahal daerah lain di Indonesia sudah mencatatkan angka puluhan ribu hingga ratusan ribu wisman. Dari jumlah itu, dapat dipahami bahwa terjadi distribusi yang benar-benar belum bisa seimbang antara penerimaan Toraja dengan destinasi wisata lain yang ada di kabupaten/kota Sulsel.  Sementara Makassar juga belum mampu menjadi penarik kuat kunjungan wisman secara mandiri, kecuali untuk tamu untuk tujuan MICE, dan para ekspatriat yang memang bekerja di sekitar kota ini. Kita tak perlu mempersalahkan para pemandu wisata atau para operator di lapangan mengenai hal ini. Kenyataan itu harus diterima Makassar untuk berpikir dan bekerja lebih keras lagi, terutama dalam rangka bagaimana membangun sebuah brand kota yang kuat, yang memiliki daya tarik tersendiri, dan memberikan nilai tambah baru jika dipadukan dengan destinasi lain yang sudah lebih dulu popular di Sulsel. Makassar, menurut saya, harus menemukan kembali ruhnya sebagai destinasi, sesuatu yang berjiwa, setidaknya semacam “the Spirit of Java” –nya Solo, yang cukup berhasil digagas dan benar-benar konsisten dilakukan oleh Pemkot Solo, Jawa Tengah saat ini.

Seperti saya katakan sebelumnya, Sulsel, termasuk Makassar, memiliki sesuatu yang lebih dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Indonesia. Sesuatu yang bisa membawa lebih banyak pengunjung daripada sekadar 1.000-2.000 orang per bulan, bahkan bisa mencapai ratusan ribu untuk bulan-bulan tertentu. Itu bukan impian yang mengada-ada. Sulsel memiliki banyak keunggulan itu, entah itu alamnya, sosial budayanya, sejarahnya, lingkungannya, maritimnya, perdagangannya, yang sebenarnya semua world class bukan level domestik, asal saja penanganannya memang setara pada level dunia. Apa itu, tulisan ini akan mencoba mengurai dengan singkat, terutama menyentuh kepada persoalan dasar yang perlu segera mendapat perhatian dari Pemprov Sulsel. Semua, tentunya, kembali kepada kekuatan riil yang dimiliki provinsi ini.

Pertama, soal apa yang saya sebut mengembalikan ruhnya atau karakteristiknya  yang sudah kurang perhatian. Ruh apa, karakter bagaimana? Dan apa dampak langsungnya terhadap pariwisata? Untuk mengetahui hal ini, berkunjunglah ke Makassar dan Anda akan merasakan bahwa pesona sebagai pelaut dan pedagang ulung di masa lampau sudah kering, bahkan tidak terlihat sama sekali. Mengapa kita tidak mengembalikan spiritnya untuk memberikan simbol bagi Makassar? Mungkin kita perlu sebuah museum modern, mungkin kita perlu panggung-panggung semacam theather untuk pementasan seni budaya kolosal  (yang kelak tentu akan bisa dimanfaatkan para seniman dan budayawan daerah lain di timur Indonesia untuk pementasan), mungkin kita perlu membangun event-event berkelas dunia mengenai kebaharian. Mungkin kita perlu sebuah napak tilas; membangun kembali jaringan-jaringan lama para leluhur kita yang mendunia, dan mengembangkan ikatan batin, masyarakat dengan masyarakat dalam berbagai bentuknya. Dan, kita perlu symbol kejayaan bahari disana, di Makassar, sebagai pintu gerbang utama Sulsel. Apakah semua itu bisa hanya diwakili Pantai Losari? Atau Benteng Rotterdam? Makassar terlalu kecil jika diukur hanya sejauh objek ini. Demikian juga Sulsel jauh lebih besar daripada sekadar “Best Nature Asia” sebagaimana taqline di logo Visit South Sulawesi Year 2012.

Maksud saya adalah tidakkah kita bisa melihat semua ini dalam sebuah frame yang besar? Saya khawatir, kita malah tidak bisa menangkap berbagai keistimewaan itu, lalu membiarkannya saja tersimpan di dalam buku literature atau manuskrip-manuskrip? Mengapa tidak mencoba untuk mencari pendekatan yang berbeda? (Bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s