Harapan untuk Mari Elka Pangestu


Oleh Jones Sirait
Direktur Pusat Analisis Informasi Pariwisata

PRESIDEN SBY sudah menunjuk Mari Elka Pangestu sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, bergeser dari posisinya sebelumnya di Kementerian Perdagangan. Jero Wacik, seperti kita harapkan sebelumnya, digeser ke Kementerian ESDM menggantikan Darwin Saleh. Bagaimana kita harus menyikapi berbagai perubahan yang bukan hanya perubahan personil tapi juga nomenklatur kementerian dari sebelumnya Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menjadi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dan “mengembalikan” kebudayaan ke “habitatnya” semula yakni Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan?

Pertama, kita melihat ada yang underestimate dengan kehadiran Mari Elka Pangestu di pos baru ini, dengan alasan “DNA” yang kurang cocok. Sebagai pendapat, wajar saja kritik semacam itu, tapi apakah tepat atau tidak masih terlalu dini untuk menjawabnya. Saya sendiri punya pandangan yang berbeda dalam persoalan ini, yang tidak terlalu pesimis apalagi sampai sinis. Maksud saya, saya justru melihat adanya sebuah harapan baru di sana, dan melihat bayang-bayang sebuah track yang mulai bergerak pada relnya?

Coba lihat, Mari Elka Pangestu, seorang professional yang berlatar belakang ekonomi yang tentu memiliki kemampuan dalam pemasaran,adalah tepat karena sudah sekian lama pariwisata kehilangan sosok pemasar. Bukankah selama ini telah berulang kali muncul kritik keras terhadap Indonesia selama ini bahwa kita tidak memiliki kemampuan untuk memasarkan pariwisata kita? Apalagi selama ini di Kementerian Perdagangan –terlepas dari kritik-kritik yang ada- Mari Elka Pangestu cukup berhasil mengembangkan (setidaknya memulai tahap baru) dalam industri kreatif Indonesia? Posisi sebagai pemasar, pemasaran kreatif dan industry kreatif menjadi kekuatan baru yang jika dikelola dengan baik diharapkan akan menjadi nafas baru pariwisata, sekaligus mereposisi pariwisata kita di tingkat regional dan global.

Kemudian, lihat pula perubahan nomenklatur Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, ke Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif itu, merupakan resolusi penting yang menjawab keragu-raguan yang selama ini mengambang terkait pertanyaan dimanakah kaki pariwisata, domain “Perekonomian” atau “Kesra”? Jika ia domain Perekonomian maka pariwisata akan terdorong kepada wajahnya yang benar sebagaimana juga di berbagai negara lain yakni sebagai fungsi ekonomi, yang menjadi tools bagi negara untuk menggenjot penerimaan negara. Bukan hanya semata-mata alat untuk “menghabiskan” anggaran Negara karena fungsi “Kesra” (baca: di bawah koordinasi Menko Kesra) yang dilekatkan padanya.

Saya kira kita tidak perlu lah bertengkar soal domain ini lagi, misalnya mengatakan perubahan domain itu justru mengabaikan atau menubrukkannya dengan fungsi-fungsi pariwisata lainnya, seperti pemeliharaan lingkungan hidup, fungsi sosial pemberdayaan masyarakat, pelestarian seni budaya dan lainnya, sebab ketika kita menyebut domain perekonomian terkesan ada nada eksploitasi di sana. Itu sangat keliru. Dimana pun negaranya, pariwisata itu merupakan tools penting bagi peningkatan ekonomi yang berdampak atau terhubung atau mendorong konstruktif bidang “Kesra”. Yang menjadi persoalan adalah kita telah salah menempatkan pariwisata hanya sebagai “alat” yang menghabiskan uang Negara, dan menghindar untuk mempertanggung jawabkan hasilnya dari sisi ekonomi. Pariwisata yang seharusnya bisa terlihat dan terukur, dibuat menjadi seluruhnya tidak terlihat dan tidak terukur. Meskipun, kita tahu, ada sisi lain juga yang tidak bisa diukur.

Kedua, kita terus terang berharap sisi “kelemahan” menteri yang lama bisa tertutupi oleh kehadiran Mari Elka Pangestu. Misalnya, sisi “diplomasi” pariwisata dan ekonomi kreatif kita yang sangat lemah saat ini, termasuk menjembatani kebuntuan lintas sektor dalam menyentuh simpul-simpul yang terkait pemasaran dan detinasi pariwisata Indonesia di luar negeri. Simpul-simpul itu banyak berada di area perdagangan, kantor-kantor perwakilan luar negeri, asosiasi-asosiasi, club-club yang bersifat G to G, atau P to P (private atau people). Jangankan tingkat Asia atau global, kita dikritik terlalu lembek di tingkat ASEAN. Dan saya belum melihat ada tendensi yang membuat kita leading dalam urusan “diplomasi” ini. Ini menjadi pekerjaan besar Mari Pangestu. Kita juga berharap ada review terhadap kebijakan atau program terkait efektivitas pemasaran kita,dengan mengacu kepada penggunaan tools yang efektif , efisien, dan kreatif, bukan semata-mata hanya mengejar anggaran.

Ketiga, kita berharap menteri baru ini segera dapat melakukan akselerasi dan mereview berbagai perkembangan yang terjadi tujuh tahun belakangan terkait pariwisata. Salah satunya adalah segera mempelajari regulasi terkait khususnya UU No10/2009 tentang Kepariwisataan, dan menemukan berbagai pekerjaan yang tertinggal yang belum sempat terselesaikan. Antara lain mengenai Badan Promosi Pariwisata Indonesia (BPPI) dan pengembangan destinasi pariwisata Indonesia. Kita harus melakukan mapping yang tepat, arah yang tepat dan program yang jelas, dan berkelanjutan, termasuk pembenahan kembali atraksi. Kita tidak bisa lagi membuat program tanpa arah dan target atau sasaran yang asal kena. Kita harus memiliki panduan yang jelas, dan harus segera dituntaskan dan disosialisasikan kepada seluruh stakeholders, termasuk menjembatani kebijakan perencanaan wilayah ekonomi secara nasional yang terintegrasi ke dalam perencanaan pariwisata.

Keempat, sebagai mantan menteri perdagangan, Mari Elka Pangestu pasti memahami adanya dispute terutama antara subsektor yang ada di perdagangan dan pariwisata selama ini, misalnya, terkait pembinaan usaha pameran, dan industry pendukungnya yang lain. Diharapkan adanya solusi yang menjembatani semua kepentingan itu, demi menyatukan kekuatan tiga pilar pariwisata: pemerintah, dunia usaha dan masyarakat.

Kelima, kita menaruh perhatian pada upaya menyatukan kekuatan pilar-pilar pariwisata seperti disebutkan di atas. UU Kepariwisataan kita memiliki spirit ini, dengan menempatkan pilar-pilar itu ke dalam satu kesatuan yang memiliki hak dan kewajibannya masing-masing, bukan paradigm hubungan subjek-objek. Perlu juga digarisbawahi industri memiliki peran paling depan yang tidak bisa dijadikan sebagai pelengkap penderita dalam pembangunan pariwisata dan ekonomi kreatif. Karena itu, kita berharap Mari Elka Pangestu segera melakukan konsolidasi internal secara cepat, dan sekaligus konsolidasi eksternal, yakni dengan kekuatan-kekuatan yang dimiliki industry. Keberhasilan awal Mari Elka Pangestu akan diuji disini. Dia perlu mendengar lebih banyak, dan bekerja lebih cepat. Mungkin juga, pekerjaan tambahan awal dalam waktu singkat ini adalah “mengembalikan” citra yang kadung tidak terlalu mulus, dalam konteks Komodo, misalnya.

Keenam, terkait dengan ekonomi kreatif. Tentu bidang ini sangat menantang, dan memiliki potensi yang tidak kecil yang mampu menopang ekonomi kita di masa mendatang. Sebagai bidang baru, Mari Elka Pangestu tentu akan melakukan penambahan dirjen baru dengan segala perangkatnya, dan memastikan memilih orang-orang yang tepat disana, mengingat bidang yang dicakup ekonomi kreatif itu sangat luas. Tantangannya adalah bagaimana mensinergikan dua bidang yakni pariwisata dan ekonomi kreatif menjadi bidang-bidang puncak keunggulan komparatif bangsa ini di dunia? Kemudian Mari perlu menjaga keseimbangan yang arif dalam pelaksanaan dua bidang itu di lapangan, sehingga muncul konstruksi baru, bukan destruksi baru.

Itulah enam harapan untuk Mari Elka Pangestu. Sebenarnya masih banyak, tapi tidak akan cukup disampaikan dalam halaman yang sempit ini. Selamat bekerja Ibu Mari Elka Pangestu. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s