Pariwisata yang Jujur, Senyum dan Ikhlas


DOAN Thanh Xuan hanya seorang sopir taksi diHo Chi Minh City,Vietnam. Tapi dengan kejujurannya, dia bisa mengharumkan nama negaranya, dan menyelamatkan citra pariwisataVietnamterhindar dari kuburan yang mematikan.

Itu bisa terjadi ketika suatu hari seorang wisatawan tertinggal tasnya di dalam taksi yang dia bawa. Sebuah tas yang berisi surat-surat sangat penting, dan uang senilai Rp250 juta (Mungkinsuratitu tidak ada artinya bagi sang sopir, tapi uang ratusan juta itu? Siapa saja bisa menggelapkan mata!). Tapi Doan Thanh Xuan dengan polos mengembalikannya. Utuh, tidak acak-acakan seperti biasanya diIndonesia.

Memang atas kebaikan hatinya itu dia diberi hadiah 100 dolar AS (Rp860.000) dari si wisatawan. Tentu, bahkan,  tidak seberapa bila dibandingkan dengan Rp250 juta yang ada di dalam tas. Tapi, coba lihat “harga” lain yang diperoleh dari kejujuran seorang sopir taksi ini, ketika ia kemudian menjadi buah bibir di seluruh dunia ketika media internasional memberitakannya yang menggambarkannya sebagai pahlawan. Ia menjadi penyelamat pariwisataVietnam.

Doan, sang sopir yang mungkin banyak dicemooh dan banyak juga kesulitan hidup ini, telah melakukan langkah kecil yang memberikan pengaruh besar. Lebih besar daripada promosi miliaran dolar yang dilakukan negaranya untuk membangun citra pariwisataVietnam. Bahkan, jauh lebih efisien dan efektif daripada omong besar pejabat pada sebuah seminar internasional, pidato pertemuan, atau dalam jumpa pers.

Begitulah kita semua belajar bahwa kejujuran bukan hanya sebuah suplemen industri pariwisata, atau bukan sekadar sebuah kebijakan terbaik dari perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam bidang pariwisata; tapi suatu kunci sukses. Sopir taksi, penerima tamu di hotel, petugas keamanan bandara, kru pesawat, suster dan dokter di rumah sakit, pedagang cinderamata, abang becak, petugas tiketing, petugas informasi wisata, pelayan restoran, petugas imigrasi, dan semua personil yang berdiri di pintu gerbang yang pertama sekali bersentuhan langsung dengan wisatawan. Mereka telah menjadi garda utama, sebuah pasukan yang maha penting; yang bagi sementara pihak dianggap sepele tapi memiliki dampak mematikan.

Tapi, kejujuran, senyum dan ikhlas bukanlah semata menjadi pekerjaan partikelir atau masyarakat. Harusnya juga bagi para pejabat, mulai dari orang yang menduduki posisi penting di Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata hingga ke dinas-dinas yang ada provinsi dan kabupaten/kota. Plus semua korps di jajaran mereka, staf golongan atas hingga bawah. Jika pejabat meminta swasta atau masyarakat untuk jujur, senyum dan ikhlas, maka adalah logis jika mereka juga dua kali lipat harus lebih jujur, senyum dan ikhlas. Mengapa? Karena mereka adalah pelayan, karena mereka adalah pamong.

Lihatlah bagaimana mungkin mempertahankan mentalitas lama itu di tengah begitu dinamis dan kompetitifnya pariwisata dunia saat ini. Gelombang mentalitas baru yang semakin pro-wisatawan, pro-dunia usaha, pro-masyarakat, pro-kreatif-efisien-efektif, pro-transparansi, pro-keramahan-kejujuran-keikhlasan. Kain baru tidak bisa ditempelkan ke kain lama, kalau tidak sobekannya akan makin lebar. Anda tidak akan bisa mendatangkan tamu dengan duduk manis. Anda tidak akan bisa mendatangkan wisatawan dengan berbohong. Anda tidak akan bisa mendatangkan wisatawan dengangayaseorang tuan kepada hamba. Era dimana kerja keras saja tidak cukup. Era dimana banyak anggaran saja tidak menyelesaikan masalah. Maksud saya, mentalitas lama sudah seharusnya ditinggalkan.

Apa saja itu? Mulailah jujur. Jauhi “tukang-menukang” proyek, tidak menukang-nukang angka kunjungan, melakukan perencanaan dengan cerdas, tidak berlagak seperti tuan tanah, tidak suka umbar janji tapi tidak ditepati, bertahan dengan metoda-metoda kuno yang tidak produktif, tidak efisien dan efektif, apalagi (jangan) sampai tilep-menilep pemasukan negara.

Kemudian mulailah untuk ramah. Dalam hal ini tiba-tiba saya membayangkan seorang pejabat yang tiba-tiba membuka pintu mobil wisatawan, yang tersenyum ramah kepada masyarakat dengan menunjukkan keteladanan Sapta Pesona. Lalu, ikhlas dalam melakukan pengabdian, tidak mencari muka, tidak ABS, dan tidak pula haus puji-pujian tanpa dasar.

Maka sebuah usul kita sampaikan disini. Bagaimana jika setiap kantor atau kendaraan atau properti lain yang terkait pariwisata sebaiknya kita tempelkan kata-kata ini: Senyum, Jujur, Ikhlas?

Pertama-tama tentunya di kantor atau properti di Kemenbudpar hingga dinas-dinas di daerah. Kita jadikan tiga kata itu sebagai karakter pariwisataIndonesia. Setuju? (Jones Sirait, Direktur Pusat Analisis Informasi Pariwisata)

 

Dimuat di Indonesia Tourism Monitor 

2 thoughts on “Pariwisata yang Jujur, Senyum dan Ikhlas”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s