SEA Games dan Tantangan Pemenuhan Venue bagi Pertumbuhan Industri MICE, Sport, dan Live Concert


Oleh Jones Sirait
Direktur Pusat Analisis Informasi Pariwisata

PEKAN ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan peninjauan ke sejumlah venue yang akan dipakai pada SEA Games di Palembang pada November mendatang. Pada saat bersamaan, persoalan terkait korupsi proyek pembangunan wisma atlet Palembang masih menjadi isu yang terus mengemuka mengingat gencarnya mantan bendahara umum Partai Demokrat, Nazaruddin dari tempat pelariannya. Dari sisi politik hukum, apa yang akan terjadi berikutnya masih buram. Tapi dari sisi infrastruktur yang terbangun itu, muncul harapan baru, akan terjadi pula akselerasi pertumbuhan berbagai sektor dan khususnya semakin terlayaninya kebutuhan publik atas infrastruktur yang lebih baik, lebih sehat dan mendorong produktivitas berbagai bidang.

Seperti kita pahami, sebuah venue di era global seperti sekarang, sangat berkaitan dengan ekonomi dan menjadi keharusan demi menjawab kebutuhan pelayanan publik. Itu sebabnya investasi besar yang ditanam di sana tidak pernah sia-sia. Sebuah event Olimpiade, misalnya, dari sisi investasi memang membutuhkan anggaran yang sangat besar untuk ketersediaan infrastruktur pendukung, tapi hanya dengan cara seperti itu terjadi percepatan pembangunan infrastruktur yang di masa depan pasti akan sangat penting peranannya. Mengapa begitu, tidak lain karena sebuah venue, misalnya, sangat berdampak multi; selain meningkatkan pemenuhan pelayanan publik atas sarana olahraga dan kesehatan, juga berdampak pada pertumbuhan industri dan perdagangan, pariwisata, pendidikan, perkembangan industri kreatif, usaha kecil dan menengah dan lainnya.

Itu sebabnya, pembangunan venue bukanlah sebuah pemborosan, bukan sebuah proyek mercusuar, tapi sebuah jawaban atas kebutuhan masa depan yang semakin membutuhkan sebuah tempat yang representatif untuk berbagai tujuan. Itu sebabnya pula, terlepas dari kisruh dugaan suap dalam proses pembangunan venue itu, Palembang dan Jakarta memiliki posisi terpenting di masa mendatang dalam urusan penyelenggaraan berbagai kegiatan baik itu mega sport event; meeting, incentive, conference, exhibition (MICE); mega entertaintmen event (live music event yang menjadi trend di dunia saat ini), festival dan lainnya. Jadi ada turunan industri yang merupakan jagoan dalam urusan peraihan devisa, peningkatan citra, investasi, pengembangan usaha kecil, dan lainnya. Mereka adalah meeting/convention industry, sport industry, exhibition industry, music (live music/concert) industry, dan lainnya. Dengan kata lain, peluang pembangunan ekonomi akan semakin terbuka di masa mendatang, asal saja aspek ukuran, manajemen dan pemeliharaan berbagai venue itu terjaga dari waktu ke waktu. Dan banyak negara telah berjuang mati-matian saat ini untuk mengambil posisi dalam masing-masing industri itu.

Dari sisi organizer profesional kita tidak kalah. Sumber daya manusia kita telah teruji dalam penyelenggaraan berbagai event. Sejumlah konvensi dengan ribuan bahkan puluhan ribu orang sudah pernah sukses kita gelar, begitu pun untuk sport event/sport tourism dan live music event. Khusus untuk live music event, misalnya, kita sudah berhasil menggelar pertunjukan sejumlah nama beken di dunia industri musik dunia, dan bahkan mulai mampu mengikuti denyut yang sama yang telah terlebih dahulu ditunjukkan Singapura, Malaysia ataupun Thailand.

Memang, untuk ukuran meeting, tidak perlu diragukan setiap ibukota provinsi dan kabupaten di Indonesia memiliki kelayakan untuk menggelarnya. Hal itu karena hampir di semua kota itu ada hotel yang menyediakan tempat pertemuan kapasitas bervariasi antara 200-500 orang. Untuk pameran? Tentu saja tidak se-fleksibel meeting. Dia butuh space yang lebih luas, sementara infrastruktur yang benar-benar representatif untuk itu baru ada di beberapa ibukota provinsi di Indonesia, seperti Jakarta, Bali, Batam, Makassar, Manado. Nah sedang untuk live music event, meski selama ini masih tetap mengandalkan convention center, namun dalam perkembangannya saat ini dan ke depan, kita membutuhkan venue yang memiliki kapasitas dan kapabilitas yang jauh lebih besar.

Seperti diketahui, keterbatasan kapasitas atau daya tampung akan sangat berpengaruh kepada berapa besar pendapatan yang bisa diraih dari sebuah event ini. Semakin kecil venue, maka semakin kecil pula pendapatan di sana. Sebaliknya, untuk event yang besar, membawa nama-nama besar, dengan kapasitas lebih besar, maka semakin besar pula pendapatan yang bisa diraih, baik dari sisi penyelenggara, impak bagi pendapatan daerah berupa pajak atau bentuk lain, besarnya dampak bagi sektor-sektor lain yang terkait dan lainnya. Dalam catatan kita, dalam konser Justin Bieber yang pertama kali di Indonesia yang digelar di Sentul International Convention Center (SICC) diperkirakan ditonton 10.000-11.000 orang, dan memang dari sisi kapatitas SICC adalah yang terbesar saat ini di Indonesia. Venue lainnya, seperti Balai Sidang (Jakarta Convention Center) hanya 5.000 orang, JIExpo 8.000-10.000 orang (kapasitas berdiri), dan Gedung Tennis Indoor Senayan 5.000 orang.

Dari sisi kapasitas ini, tentu kita agak tertinggal dengan Singapura, yang rupanya telah menjadikan dirinya sebagai pusat MICE, pusat sport event dan concert terpenting di Asia. Untuk menyebut contoh venue yang sering digunakan untuk kegiatan konser maupun pameran, disamping venue lainnya, adalah Singapore Indoor Stadium yang memiliki kapasitas hingga 12.000, dan National Stadium yang memiliki kapasitas 55.000. Uniknya, semua venue ini adalah yang berkaitan dengan infrastruktur olahraga, yang dibangun multi-fungsi, dan manajemen yang demikian elastis yang semuanya ditujukan demi kepentingan pemasukan negara yang semakin besar, dan dampak promosi, serta citra negaranya di mata internasional.

Di Indonesia, kita memang memiliki venue (berkaitan dengan sport) yang memiliki kapasitas besar, seperti Stadion Gelora Bung Karno, dan sejumlah stadion sepakbola yang dibangun di berbagai daerah seperti Bandung, Palembang dan lainnya, namun sangat disayangkan sangat tertutup untuk penggunaannya bagi konser-konser musik, dengan berbagai alasan. Padahal, dalam berbagai kesempatan, stadion juga sering dipakai untuk pengumpulan massa yang begitu besar sampai ratusan ribu orang, seperti yang terjadi dalam peristiwa kepartaian. Sementara jika hanya menggantungkan pada Indoor Stadium, kapasitasnya hanya 5.000 orang, yang mungkin lebih cocok untuk sebuah konser yang terbatas. Pertanyaannya mengapa tidak dibuka untuk konser yang memang diperkirakan mampu mendatangkan penonton yang lebih besar lagi? Ada yang mengatakan aspek kerusakan rumput, kerusakan tempat duduk dan sarana pendukung lainnya menjadi momok bagi pihak manajemen. Tapi, sebagaimana diberlakuan di sejumlah stadion besar dunia, misalnya Stadion Wembley, London, dukungan ketersediaan peralatan pendukung untuk mencegah kerusakan itu sudah tersedia, sehingga tidak mengherankan kalau stadiun megah itu sering dipakai untuk konser besar.

Apa yang ingin kita katakan melalui tulisan ini adalah, persoalan venue menjadi sangat mendesak untuk dipikirkan saat ini. Dan dalam kaitan dengan berbagai venue yang dibangun di Palembang saat ini, kita berharap setelah SEA Games nanti, Palembang memiliki visi baru terkait kekuatan venue yang sudah ada di daerahnya, terutama dalam kaitan dengan pengembangan venue itu untuk mendukung sektor-sektor lain di daerahnya. Dapat disebut itu adalah aset yang sangat berharga, dan menjadi nilai tawar yang tinggi bagi Palembang khususnya dan Sumatera Selatan umumnya dalam memacu lebih cepat lagi pembangunan di daerah ini. Maksud kita adalah selain manajemen venue yang kuat, perlu dipikirkan bagaimana membawa lebih banyak event (multi-event) baik nasional maupun internasional ke sana.

Dengan berbagai dukungan fasilitas yang dibutuhkan masing-masing jenis event itu, dengan dukungan infrastruktur lain yang sudah terbangun seperti hotel dengan berbagai pilihan, jaringan jalan dan transportasi, jaringan komunikasi dan lainnya; sehingga menjadikannya sebagai venue sekaligus destinasi yang representatif, setidaknya mampu menghadapi pesaing yang sebenarnya tidak jauh dari daerahnya, yakni Singapura dan Malaysia. Maka dalam konteks ini, mereka harus juga berpikir sebagaimana Singapura dan Malaysia memanfaatkan venue mereka, dan memberikan nilai tambah bagi daerah secara lebih luas lagi. Tidaklah berlebihan, dengan keberadaan venue itu, jika mereka kemudian memiliki visi sebagai pusat industri kreatif, industri MICE, industri sport dan industri live concert (musik) terpenting di Indonesia.

Semoga saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s