Program Tahun Kunjungan (Visit Year) Daerah, Apa yang Salah?


Oleh Jones Sirait
Pusat Analisis Informasi Pariwisata

Sejak Visit Indonesia Year 2008, yang kemudian berlanjut untuk tahun 2009 dan 2010, program tahun kunjungan beralih menjadi trend di sejumlah daerah. Menariknya, bukan hanya dilakukan oleh pemerintahan provinsi, tapi juga kabupaten/kota. Dari catatan Pusat Analisis Informasi Pariwisata (PAIP) tahun 2008, misalnya, ada tiga daerah yang menggelar tahun kunjungan yakni Sumatera Selatan (Visit Musi Year 2008), Visit Bengkulu Year 2008, Visit West Java Year 2008. Tahun 2009, ada dua daerah menggelar program serupa yakni Lampung (Visit Lampung Year 2009), dan Kalimantan Selatan (Visit South Kalimantan Year 2009). Tahun 2010, setidaknya juga ada tiga daerah menggelarnya yakni Bangka Belitung (Visit Bangka Belitung Year 2010), Batam (Visit Batam Year 2010), dan Kalimantan Barat (Visit West Kalimantan Year 2010).

Kemudian untuk tahun 2011 ini, ada setidaknya lima daerah yakni: Kota Banda Aceh (Visit Banda Aceh Year 2011), Provinsi Jambi (Visit Jambi Year 2011) setelah ada penundaan untuk tahun 2009), Kabupaten Bogor (Visit Bogor Year 2011), Provinsi Jawa Timur (Visit East Java 2011), Kota Makassar (Visit Makassar Year 2011), dan Provinsi Kalimantan Timur (Visit East Kalimantan Year 2011). Selain itu, sejumlah daerah lainnya sudah menjadwalkan akan menggelar program ini untuk tahun 2012 dan 2013, diantaranya Aceh (Visit Aceh Year 2013), dan Jawa Tengah (Visit Jawa Tengah Year 2013) setelah batal tahun 2011.

Bagaimana hasilnya sejauh ini? Adakah pelajaran yang bisa dipetik, khususnya bagi daerah-daerah yang sedang mempersiapkan program itu?

Pertama-tama, kita harus mengatakan, peralihan program yang sebelumnya dilakukan secara nasional (dengan Kemenbudpar sebagai leading sector-nya) ke daerah sebenarnya merupakan gagasan yang baik, bahkan telah disarankan demikian. Antara lain untuk mendorong kreativitas daerah, dan memacu pertumbuhan lintassektor khususnya sektor pariwisata, perindustrian, perdagangan dan investasi secara cepat sesuai kemampuan mereka untuk mengeksekusinya. Malaysia juga melakukannya, yakni setelah Visit Malaysia Year 2008 kemudian diikuti dengan tahun kunjungan di negara-negara bagian seperti Melaka, Sabah dan lainnya. Selain itu, ada harapan program tahun kunjungan daerah itu dapat menjadi koreksi atas pelaksanaan program yang sama yang dilakukan Kemenbudpar sejak 2008 secara nasional, siapa tahu, orang-orang daerah ternyata lebih brilian dibandingkan dengan orang-orang pusat dalam mempersiapkan, mengeksekusi dan mengevaluasi program semacam ini? Hal ini dikatakan karena pelaksanaan program Visit Indonesia Year 2008,2009,2010 telah banyak dikritik sebagai tidak memuaskan dari berbagai sudut pandang, dan hal itu tidak perlu lagi kita bahas di sini.

Sayangnya, dari pengamatan sejauh ini, ada tendensi bahwa apa yang dilakukan daerah-daerah rupanya tak lebih dari mengikuti apa yang dilakukan Kemenbudpar dari sisi negatifnya? Koor ketidakpuasan sudah banyak terdengar di berbagai daerah, misalnya, soal perencanaan yang tidak matang, lebih bermotivasi “asal anggaran naik” (tak peduli output-nya), bermain sendiri tanpa mau melibatkan sektor lain, tanpa evaluasi, miskin pemilihan saluran pemasaran (misalnya, hanya dengan mencetak brosur dan membuat website selesai), dan seterusnya. Ini ibarat berita suratkabar atau buku dengan judul hebat tapi isinya memble. Idealnya lagi, memang ada aspek konsultansi dan pendampingan dari pusat (Kemenbudpar) untuk tiap program tahun kunjungan di daerah itu, tapi pertanyaannya menjadi lucu; bagaimana mau memberikan masukan kalau pelaksanaan di tingkat nasional saja, maaf, amburadul?

Di Kalimantan Barat, para anggota DPRD mempertanyakan hasil program tahun kunjungan yang dilakukan Pemprov Kalimantan Barat tahun 2010. Mereka mempertanyakan hasil program, bagaimana evaluasinya dan lainnya. Mereka melihat dengan anggaran yang dikeluarkan gaung program ternyata tidak terdengar, sampai kemudian pada tahun anggaran berikutnya copy paste kegiatan pun terjadi. Apa yang terjadi di tingkat nasional (Kemenbudpar) benar-benar ditiru di daerah, menjadikan program tahun kunjungan hanya sebagai alat untuk meningkatkan anggaran. Habis anggaran, hasilnya tidak jelas. Fakta yang lebih jelas lagi, hampir tidak ada daerah yang menyelenggaran program tahun kunjungan berhasil meyakinkan semua pihak akan manfaatnya lalu melanjutkan program yang sama tahun berikutnya. Semua putus di tengah jalan.

Kalau dilihat dari sisi pemasaran, program tahun kunjungan sebenarnya adalah kampanye nasional dan atau daerah dalam skala lebih luas. Pertama ada harapan perbaikan citra di sana. Kemudian aspek promosi daerah, dan lainnya. Hasilnya ada yang jangka pendek dan ada jangka panjang, ada yang tangible ada intagible. Semua, mestinya bisa diukur hasilnya. Karenanya, dari perspektif pengorganisasian, program tahun kunjungan wisata meskipun sektor penggeraknya adalah pariwisata namun sektor industri, perdagangan, investasi, harus berada dalam satu paket koordinasi di dalamnya, termasuk dunia usaha dan masyarakat. Karena dominan aspek pemasaran di sana, maka kreativitas memilih tools dan saluran distribusi pemasaran sangat penting. Ada kombinasi-kombinasi, ada ukuran efektifitas dan efisiensi. Secara khusus semua pihak diajak untuk “Look out the window” dengan banyak list pertanyaan yang mengarah kepada “apa yang dimaui mereka untuk berkunjung, berinvestasi, berbisnis dan lainnya”. Tentu saja kemudian dengan anggaran yang sangat ketat mereka harus cerdas memilih pesan, saluran pesan dan pasar yang hendak dituju. Aneh kalau ada yang berpikir dengan membuat logo dan slogan, mencetak poster atau brosur dan menempelkannya di badan pesawat, selesai . Atau sebaliknya ada yang menganggarkan iklan besar-besaran tapi tak tepat waktu, metode dan tempatnya, sama saja bohong. Harap diingat tahun kunjungan itu tidak sekadar iklan, atau pesta launching hebat satu hari setelah itu selesai.

Dalam konteks peningkatan kunjungan wisatawan, misalnya, maka memilih pendekatan pemasaran yang tepat memang harus putar otak. Itu sebabnya diperlukan perencanaan yang matang dengan melibatkan berbagai pihak di dalamnya. Pikirkan apa yang membuat orang tertarik untuk berkunjung, berinvestasi dan sebagainya. Penciptaan event, pemberian incentive (hotel, penerbangan, cinderamata dan lainnya) bagi wisatawan atau organizer atau siapapun yang membawa wisatawan masuk; pemberian kemudahan, kerjasama promosi, hingga kecermatan memilih pasar dan pemilihan media menjadi sangat penting di sini. Semua harusnya terencana, tersusun agendanya dengan baik dan saluran-salurannya yang terus berjalan, dengan baik, dengan pengorganisasian struktur dan personalia pelaksana yang juga baik hari demi hari. Ini bukan proyek satu-dua bulan, tapi sepanjang satu tahun, sehingga perlu pembagian tugas dan tanggung jawab yang baik dan benar di antara para stakeholder yang terlibat. Teknik mengatur nafas sangat penting di sini.

Rapihnya kerjasama antara pemerintah, dunia usaha dan masyarakat dalam pelaksanaan program ini menjadi penentu keberhasilan program tahun kunjungan. Pemerintah atau pejabat dalam urusan ini jangan menjadi beban bagi dunia usaha. Dunia usaha juga sangat bodoh kalau tidak mau terlibat di dalamnya, karena toh yang “memunguti” hasilnya secara langssung ya mereka sendiri. Kita ingin mengatakan, program ini harus menjadi kegiatan bersama-sama, gotong-royong antara semua stakeholder. Kita butuh organizer yang baik, ya, sebagaimana kita juga butuh profesional pemasar, orang kreatif, orang IT, dan potensi lain termasuk tokoh-tokoh kunci daerah yang ada di luar daerah ataupun luar negeri. Mereka dapat dimanfaatkan secara personal atau institusional. Momentum ini harus menjadi momentum memanfaatkan jaringan atau potensi daerah yang ada. Bermain sendiri takkan menghasilkan sesuatu yang optimal.

Internal pemerintah daerah juga harus berpikir demikian. Semua dinas seharusnya tidak boleh diam, sebagaimana semua dunia usaha dan organisasi atau asosiasi yang ada di daerah itu, juga ikut ambil bagian. Begitu juga dengan pemerintah kabupaten/kota (jika ini program tahun kunjungan provinsi). Kita ambil contoh kecil saja, jika satu dinas membuat event satu saja dengan ukuran 200-400 pax, entah dalam bentuk pertemuan apa saja (yang melibatkan peserta dari luar provinsi), maka sudah berapa banyak event yang bisa diciptakan untuk mengundang tamu dari luar datang. Begitu juga dengan dunia usaha dan asosiasi, club-club peminatan khusus atau kelompok masyarakat. Pihak hotel, penerbangan, atau perubahan nasional atau multinasional yang ada di daerah itu, misalnya, alangkah bagusnya kalau masing-masing bisa membuat event khusus dalam tahun itu, entah itu ulang tahun, family gathering, seminar atau apa saja yang berpotensi untuk mendatangkan tamu (grup perusahaan mereka) ke daerah. Itu beberapa contoh kecil saja dari sisi event. Disamping banyak lagi kegiatan terkait marketing communication plan, sales, costumer service, research dan lainnya.

Ada trend yang unik sedang terjadi, sebut saja mengenai target kunjungan wisatawan mancanegara dalam setiap peluncuran program tahun kunjungan. Di sana kadang terlihat jauh panggang dari api. Strateginya tidak sampai, karena tidak didasarkan pada fakta, dongeng atau cita-cita. Apalagi kampanye memang tidak sampai ke telinga wisman yang disasar karena berbagai keterbatasan termasuk gagalnya pemahaman atas pasar itu sendiri. Dalam hal ini menjadi aneh kalau potensi peningkatan wisatawan nusantara (wisnus) menjadi nomor dua, padahal di sana letak kunci apakah sebuah program tahun kunjungan itu dirasakan langsung manfaatnya. Kalau kita membuat lingkaran pengaruh, maka program tahun kunjungan pada tingkat dasar harus bisa mempengaruhi tingkat lokal secara menyeluruh, setidaknya ada peningkatan awareness di sana, termasuk peningkatan yang produktif baik sebagai produsen maupun konsumen. Lalu beranjak ke tingkat daerah terdekat karena aspek jarak dan waktu sangat berperan penting dalam peningkatan kunjungan wisata. Selanjutnya ke daerah lebih luas secara nasional, kemudian internasional.

Dengan demikian, kritik yang harus kita sampaikan kepada daerah yang menggagas program tahun kunjungan ini menjadi sangat luas, meliputi pengorganisasian yang tidak jelas, penganggaran yang sekenanya, perencanaan (marketing plan) yang instant dan tidak tepat, operational atau action yang apa adanya dan tanpa feedback, pengawasan dan evaluasi. Wajar kalau kemudian program itu kurang memberi manfaat bagi daerah. []

One thought on “Program Tahun Kunjungan (Visit Year) Daerah, Apa yang Salah?”

  1. setuju tulisan ini. tahun kunjungan perlu dipersiapkan matang, jangan hanya bertujuan naikkan anggaran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s