Maskapai Penerbangan Bakal Hadapi Krisis Akibat Kerusuhan Timteng


DUBAI- Maskapai Penerbangan yang terbang ke Timur Tengah dan Afrika Utara diprediksi akan menghadapi kerugian tahun ini, sebagai dampak merosotnya industri pariwisata dan lonjakan harga minyak akibat ketidakpastian politik dan peningkatan kekerasan di wilayah itu.

Demonstran Libya, hingga Kamis (24/2) menolak upaya Muammar Khadafi untuk membungkam masyarakatnya yang menuntut diakhirinya pemerintahan 41 tahun Khadafi, mengikuti aksi yang sama yang bergulir di Tunisia dan Mesir yang telah berhasil menggulingkan pemimpin negeri itu.

“Jika kerusuhan berlanjut, mungkin akan mencapai titik di mana maskapai penerbangan tidak dapat terbang ke negara-negara ini,” kata Gunther Matschnigg, wakil presiden senior untuk keselamatan, operasi dan infrastruktur di International Air Transport Association (IATA), seperti dikutip Reuters.

Dia mengatakan operator yang berbasis di Teluk dan maskapai Eropa lainnya yang beroperasi ke daerah akan terpengaruh dalam skenario seperti itu.

Emirates (EMIRA.UL), British Airways (BAY.L), Lufthansa (LHAG.DE) dan lainnya ditangguhkan penerbangannya ke Kota Tripoli dan berdampak langsung pada hari Selasa.

Operator tur Eropa dan perusahaan penerbangan membatalkan beberapa perjalanan ke Kairo bulan lalu, akibat pengunjuk rasa yang marah turun ke jalan untuk menggulingkan Presiden Hosni Mubarak. Hal itu telah memukul industri pariwisata yang menjadi tumpuah sekitar satu dari delapan pekerjaan di negara ini.

“Negara-negara seperti Mesir dan Tunisia populer di kalangan wisatawan, dan masyarakat di negara-negara ini juga sangat tergantung pada pariwisata. Kerusuhan di Timur Tengah jelas mempengaruhi pertumbuhan lalu lintas penerbangan,” kata Matschnigg.

Egypt Air mengatakan bulan ini bahwa mereka telah menawarkan untuk menyewakan 25 pesawat terbarunya sebagai wisatawan tinggal jauh dari negara itu.

Emirates, salah satu operator terbesar dunia Arab, mengurangi frekuensi penerbangan dari 13 penerbangan mingguan ke dan dari Kairo untuk tujuh mingguan. Maskapai lain juga diketahui telah mengurangi penerbangan mereka ke Mesir.

Lonjakan harga minyak

Direktur Jenderal IATA Giovanni Bisignani mengatakan  Rabu (23/2), maskapai penerbangan yang “sangat ditantang” oleh kenaikan harga minyak di tengah kerusuhan di Timur Tengah.

Gejolak di Libya, negara yang memompa hampir 2 persen dari produksi minyak dunia, mendongkrak harga minyak mentah Brent di atas 108 dolar AS per barel, angka tertinggi dalam dua setengah tahun ini pada hari Senin.

“Dengan asumsi situasi berlanjut, harga minyak diperkirakan akan menyentuh  115 dolar AS hingga 120 dolar AS per barel dalam dua minggu ke depan, yang akan mengakibatkan kerugian bagi maskapai penerbangan global untuk tahun berjalan,” kata John Siddharth, seorang analis industri untuk Asia Selatan dan Timur Tengah di Frost & Sullivan.

Matschnigg mengatakan harga minyak yang meningkat dapat memaksa sektor penerbangan untuk memikirkan biaya tambahan bahan bakar, sehingga meningkatkan biaya tiket. “Jika harga naik lebih tinggi akan ada upaya membuat biaya tambahan,” kata Matschnigg.

“Beberapa maskapai penerbangan sudah melakukan upaya mengamankan kebutuhan bahan bakar mereka, tetapi tidak semua. Itu semua tergantung pada berapa lama situasi ini akan terus berlanjut.” (paip-1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s