Jangan Remehkan Penurunan Wisatawan dari Empat Negara ke Bali


Oleh Pusat Analisis Informasi Pariwisata

JAKARTA- Penurunan kunjungan wisatawan dari empat negara yakni Jepang, China, Korsel dan Perancis ke Bali tahun 2010 lalu sebaiknya jangan dianggap remeh para pemanggu kepentingan pariwisata. Perlu upaya konkrit untuk mencegah kejadian yang sama terulang tahun 2011, termasuk mencari metode pemasaran yang terbaik untuk Bali.

Kepada Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali I Gede Suarsa di Denpasar, Minggu (13/2) (beritanya bisa dibaca di sini) mengatakan, wisatawan asal Jepang mengalami penurunan sebesar 26.61 persen dari 333.905 orang pada tahun 2009 menjadi 245.040 orang pada tahun 2010.Wisatawan China berkurang 4,48 persen dari 206.151 orang menjadi 196.925 orang.

Wisatawan Korea Selatan berkurang 0,13 persen dari 124.889 orang menjadi 124.729 orang dan wisatawan Perancis 8,31 persen dari 113.453 orang menjadi 104.029 orang, tutur Gede Suarsa.

Meski begitu, sejumlah negara lain diketahui mengalami peningkatan kunjungan, yakni Taiwan tercatat sebanyak 122.255 orang atau meningkat 1,5 persen dari tahun sebelumnya yang tercatat 120.445 orang. Australia naik sebesar 43,67 persen dari 446.570 orang menjadi 641.588 orang; Malaysia naik 16,03 persen dari 135.190 orang menjadi 156.858 orang.

Kemudian Singapura naik 73,96 persen dari 56.992 orang menjadi 97.402 orang, Inggris naik 2,91 persen dari 93.688 orang menjadi 96.412 orang dan Jerman naik 12,77 persen dari 74.849 orang menjadi 84.406 orang.

Menurut BPS (lihat di sini), total wisman ke Bali tahun 2010 sebanyak 2.576.142 orang, atau meningkat 8,01 persen dibanding tahun sebelumnya yang hanya 2.385.122 orang.

Menanggapi informasi ini, Direktur Pusat Analisis Informasi Pariwisata (PAIP) Jones Sirait mengatakan, pemerintah perlu memberikan perhatian besar terhadap negara-negara yang mengalami penurunan itu. Hal itu jauh lebih baik daripada sekadar mencari penghiburan dari angka-angka kenaikan.

“Ini jangan diremehkan. Jepang dan China khususnya, itu porsinya cukup dominan bagi pariwisata Bali. Khusus untuk Jepang, sejauh ini alasan dihentikannya penerbangan JAL menjadi dalih, itu memang faktor signifikan, tapi harap diingat penurunan itu bahkan sudah terjadi jauh sebelum triwulan terakhir 2010, ketika penerbangan dihentikan pada Oktober,” katanya.

Demikian juga soal China. Padahal, kata Jones Sirait, sejumlah event besar di China begitu gegap-gempita dan sangat sering dilakukan pemerintah ke negeri Tirai Bambu itu sepanjang tahun 2010 (contoh lihat di sini dan di sini. Tapi, kok sepertinya tidak ada dampaknya? “Bukan nambah, malah berkurang kunjungannya dari China. Ini sangat aneh, padahal tidak sedikit dana yang dikeluarkan untuk itu,” katanya.

Selain ke China, tahun 2010 juga pemerintah khususnya Kemenbudpar juga melakukan berbagai kegiatan promosi ke Jepang (contoh lihat di sini). Hasilnya malah negatif. “Ini jelas harus dicarikan jawabannya. Mungkinkah metode kita tidak tepat atau apa?” katanya.

Direktur PAIP juga menyampaikan kritik terhadap statistik kunjungan yang terakhir dilansir pihak BPS Bali maupun pihak Pemprov Bali. Menurutnya, dua penjelasan yang berbeda dari hanya berjarak beberapa minggu dari keterangan mereka kepada publik, mengesankan ada sesuatu yang “disembunyikan”.

“Kami mencatat saat jumpa pers yang disampaikan pada 19 Januari 2011 (lihat di sini) dan pada awal Februari 2011 ini terdapat perbedaan angka yang cukup signifikan. Lucunya kejadiannya semacam koreksi setelah BPS pusat resmi mengumumkan statistik kunjungan wisatawan Januari-Desember 2010,” katanya.

Sebagai perbandingan, kata Jones Sirait, pada akhir Januari 2011, pihak BPS Bali dan Pemprov mengatakan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara mancapai 2,49 juta orang, tapi kemudian terakhir ini disebut 2,57 juta orang. “Dan angka terakhir ini mirip seperti angka BPS pusat yang kalau dijumlah total 2.546.023 orang (dari pintu kedatangan Bandara Ngurah Rai), dan mungkin sisanya dari tiga pintu masuk lain yaitu pelabuhan yang ada di Bali?” tanya Jones.

Jones sendiri tidak ingin terlibat perdebatan mengenai masalah ini, dan tidak ingin menuduh mana pihak yang benar. “Intinya transparansi itu sangat penting. Kalau tidak yakin dan daripada nanti runyam sebaiknya satu komando saja. Kita juga senang kalau kunjungan semakin meningkat. Tapi janganlah terkesan aneh, publik jadi bingung,” katanya. (paip-3)

4 thoughts on “Jangan Remehkan Penurunan Wisatawan dari Empat Negara ke Bali”

  1. Ulasan menarik mengenai kondisi kepariwisataan di Indonesia
    Sekaligus kritik membangun kpd kebijakannya
    (Mohon link pusat statistiknya agar info lbh terpercaya)

  2. sebaiknya jadi peringatan bagi semua pihak, bersama-sama memikirkan jangan sampai terulang. i love bali…

  3. saat ini rata2 tiap destinasi wisata khususnya bali, bergerak ke arah mass tourism, pola keberhasilannya hanya dilihat dari kuantitas kunjungan dan bukan dari segi kualitasnya, tapi jika diperhatikan lagi, hal tersebut tidak akan berpengaruh signifikan karena dominan spend of money/length of stay dari para wisatawan cenderung kecil. semoga saja ada solusi dari pemerintah serta para stakeholder untuk menjadikan ODTW kita menjadi lebih exclusive.
    (tks bwt admin,permintaan sudah di update.) go PAIP

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s