Menyoal Kunjungan Wisman ke Bali dan Penurunan Wisman Jepang, China


Oleh Pusat Analisis Informasi Pariwisata

JAKARTA- Pemerintah Provinsi Bali pekan ini merilis data kunjungan wisatawan ke Bali selama tahun 2010.  Seperti disampaikan Kabag Publikasi dan Dokumentasi Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali I Ketut Teneng, proyeksi kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) ke Bali tahun 2010 berkisar 3,5 – 3,8 juta orang. Realisasinya lebih dari 4,4 juta orang.Proyeksi kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang ditetapkan antara 2,3 – 2,5 juta, realisasinya 2,49 juta orang. Data ini, menurut I Ketut Teneng, menunjukkan dalam tahun 2010 yang lalu, Bali dikunjungi oleh lebih dari 6.924 juta wisatawan, meningkat sebanyak 1.172.978 orang (20,39 persen).

Memperhatikan data kunjungan pada tahun 2009 dan 2010 tersebut, maka pada tahun 2011 ini Pemprov Bali memasang target kunjungan Wisatawan Nusantara berkisar antara 4,7 – 5 juta orang dan target kunjungan Wisatawan Mancanegara berkisar antara 2,6 – 2,7 juta orang.

Apa yang menarik? Sepintas lalu memang sepertinya biasa-biasa saja, tapi kalau dicermati lebih dalam, angka-angka itu berarti sangat banyak, baik dalam konteks pariwisata Bali maupun nasional secara luas.

Pertama, kita memang masih menunggu detail data kunjungan wisatawan asing secara resmi dari BPS maupun Kemenbudpar secara nasional. Maksudnya bagaimana data 7 juta wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia tahun 2010 lalu itu tersebar, dan bagaimana posisi akhir kunjungan (hingga Desember 2010) ke Bali, Jakarta, Batam dan pintu masuk lainnya di Indonesia.

Hal ini penting karena faktanya belum ada rilis yang jelas dari BPS maupun Kemenbudpar bagaimana posisi statistik kunjungan per Desember 2010 untuk memastikan klaim kenaikan 9,3 persen dibanding tahun 2009 yang sudah terlanjur dipublikasi Kemenbudpar.

Kedua, bagaimana sebenarnya postur wisatawan berdasarkan asal negara yang berkunjung ke Bali tahun 2010, dan adanya trend penurunan kunjungan wisatawan asal Jepang dan China, sehingga perlu dicarikan penyebabnya. Termasuk potensi perlambatan kenaikan wisatawan asal Australia, dibandingkan yang ditunjukkan Thailand.

Seperti diketahui, Bali memiliki peran sangat penting dalam dunia pariwisata Indonesia, karena Bali menjadi ”tulang punggung” 36  persen total kunjungan wisatawan  ke Indonesia (Jakarta 25,9 persen, Batam 27 persen). Atau sudah berubah?

Kalau dicermati, tentu ada kesan yang ingin ditunjukkan oleh pihak Pemrpov Bali bahwa kunjungan wisatawan ke Bali meningkat pesat dengan kenaikan ”fantastis” 20,39 persen. Terlihat mereka tidak tertarik dengan jumlah wisatawan asing yang ”hanya” 2,49 juta orang, mungkin itu sebabnya yang ditonjolkan adalah jumlah keseluruhan wisatawan. Salah? Tentu saja tidak. Justru bagus, karena kita semakin disadarkan semakin pentingnya posisi wisatawan nusantara dalam menggerakkan roda industri pariwisata kita. Tapi soal angka kunjungan wisatawan asing itu, tentu menjadi catatan lain.

Yang menarik adalah kalau dilihat dari data BPS jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali tahun 2010 ada sebanyak 2,4 juta orang, maka dengan angka 2,49 tahun 2010 sebenarnya kondisi ini lebih tepat dikatakan ”stagnan” daripada peningkatan, karena tahun 2009 jumlah wisatawan ke Bali itu sudah mencapai 2,4 juta orang. Sekaligus kita ingin mengingatkan pejabat yang sebelumnya menyebut film ‘Eat, Pray and Love’ mendongkrak kunjungan wisman, sebab rupanya itu belum terbukti setidaknya untuk tahun lalu.

Kalau diikuti logika yang disampaikan Menbudpar Jero Wacik bahwa tahun 2010 terjadi kenaikan penerimaan wisatawan asing dari 6,3 juta orang tahun 2009 menjadi 7 juta orang tahun 2010, maka ada penambahan sekitar 700.000 orang wisatawan tahun 2010 ini.

Nah, jika di Bali untuk tahun 2010 ternyata hanya ada penerimaan tak mengejutkan, katakanlah kenaikan hanya 100.000 orang wisatawan, maka pertanyaannya kemanakah perginya yang 600.000 orang lagi?

Seperti disebutkan terdahulu, biasanya secara nasional, 36 persen wisatawan mancanegara itu pergi ke Bali, sekitar 26 persen ke Jakarta, 27 persen ke Batam, dan sisanya dibagi ke pintu masuk lainnya di Indonesia (Medan, Padang, Kepri, Babel, Surabaya, Bandung, Makassar dan lainnya) yang jumlahnya keseluruhan hanya 10 persen dari jumlah total kunjungan ke Indonesia.

Dengan angka rata-rata semacam itu, maka logika statistiknya maka Batam dan Jakarta bisa jadi ”kebagian” naik masing-masing sekitar 270.000 orang wisatawan. Atau statistiknya untuk Batam harusnya mencapai angka 1,3 juta wisatawan, dan Jakarta sekitar 1,7 juta wisatawan asing.

Hal lain, seperti dikatakan tadi, perlu dicermati mengenai penurunan wisatawan Jepang yang mencapai 25 persen tahun 2010, termasuk wisatawan asal China hingga mencapai 1,5 persen. Ini penting karena Jepang itu adalah pemasok utama wisatawan ke Bali, dan China merupakan pasar baru yang selama ini telah banyak menjadi sasaran promosi pariwisata Indonesia sepanjang 2010 (sebut saja JATA World Tourism Expo, Sales Mission di Tokyo, Nagoya dan Osaka, World Expo Shanghai China (WESC) dan lainnya). Apakah upaya promosi itu tidak mempan? Kurang banyak, atau memang tidak tepat sasaran?

Hal ini bukan bermaksud untuk menafikan faktor penghentian penerbangan Japan Airlines ke Bali sejak Oktober tahun lalu. Pertanyaannya bukankah seharusnya penghentian itu sudah diantisipasi otoritas pariwisata kita karena rencana itu sudah diketahui jauh-jauh hari? Faktor Jepang bagi pariwisata Bali bukan main dampaknya dan tidak boleh dianggap enteng persoalan itu.

Meski ada yang dinilai menghibur dengan dibukanya rute penerbangan Darwin – Bali oleh Pacific Blue dan Cebu Airlines untuk rute Manila-Bali pada akhir 2010 lalu, dan Vietnam Airlines yang akan membuka rute Ho Chi Minh- Bali pada 2011 ini, faktanya posisinya masih belum mampu mengejar kekuatan Jepang sebagai pemasok utama wisatawan ke Bali.

Satu pesan yang perlu disampaikan di sini adalah teliti kembali gejala ini, jangan dibiarkan saja. Upaya keras harus dilakukan untuk mencegah pariwisata Bali tergerus lebih dalam lagi. ()

One thought on “Menyoal Kunjungan Wisman ke Bali dan Penurunan Wisman Jepang, China”

  1. Jepang adalah salah satu wisatawan yang spending powernya tinggi. Jadi bila terjadi penurunan akan sangat berdampak pada hotel atau tempat wisatawan yang berbintang 5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s