Ketika Pariwisata Indonesia Memberi Banyak Tapi Menerima Sedikit


Oleh Pusat Analisis Informasi Pariwisata

JAKARTA – Terhitung sejak 1 Januari 2011, pemerintah telah memutuskan untuk tidak lagi memungut biaya fiskal perjalanan ke luar negeri. Perdebatan baru pun mulai: setelah hilangnya triliunan rupiah pemasukan bagi negara dari fiskal, bagaimana kinerja pariwisata untuk menyeimbangkan defisit perjalanan, yang justru diperkirakan akan semakin terjun bebas pasca pemberlakukan bebas fiskal itu?

Pertanyaan ini penting untuk dijawab mengingat desakan-desakan untuk membebaskan fiskal itu lebih nyaring disuarakan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura selama ini, meskipun tentunya banyak juga suara dari dalam negeri yang menentang pemungutan biaya itu, antara lain dengan alasan menghalangi dunia usaha Indonesia untuk mengembangkan ekspor, sebuah alasan yang juga mendapatkan perdebatan pihak lain dengan menunjukkan fakta-fakta lain.

Apa kaitannya dengan dunia pariwisata? Pertama, seperti sudah dikatakan tadi, dapat dipastikan akan semakin banyak orang Indonesia yang tertarik untuk melakukan perjalanan ke luar negeri. Hal itu akan terkait dengan fiscus (uang) yang lebih banyak dinikmati negara lain. Kedua, hal itu mengandung amanah berat, bahwa pariwisata Indonesia harus bekerja lebih keras lagi untuk menarik wisatawan negara lain ke Indonesia untuk mencapai keseimbangan perjalanan yang lebih baik. Ketiga, hal itu jelas menyangkut strategi pariwisata Indonesia untuk lebih menggalakkan kampanye pemasaran destinasi domestik untuk memperbesar sirkulasi uang jatuh di destinasi domestik daripada destinasi negara lain.

Berikut ini adalah gambaran bagaimana rumitnya upaya menyeimbangkan neraca perjalanan kita terutama terhadap tiga negara tetangga kita yakni Malaysia, Singapura dan Thailand, tiga negara yang menurut hemat kita paling diuntungkan dengan kebijakan yang baru itu, dan mudah-mudahan bisa menjadi pemacu Kemenbudpar untuk membenahi pemasaran pariwisata Indonesia di tingkat ASEAN.

Indonesia merupakan pemasok wisatawan kedua terbesar bagi Malaysia. Tahun 2009,  dari jumlah total 23.646.191, sebanyak 2.405.360 orang (10 persen) wisatawan Indonesia berkunjung ke negeri ini, sementara wisatawan Singapura sebanyak 12.733.082 yang menjadikannya sebagai pemasok nomor satu ke Malaysia. Di urutan ketiga dan keempat adalah Thailand (1.449.262 orang), dan Brunei (1.061.357 orang).

Dengan jumlah 2.405.360 orang itu, maka setiap bulan wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Malaysia adalah 200.000 orang. Ini merupakan lompatan besar jika dibandingkan tahun 2006 yang hanya 1.217.024 orang atau sekitar 100.000 orang per bulan.

Untuk Singapura, dari jumlah total 9.682.700 orang wisatawan yang berkunjung ke negara ini tahun 2009, Indonesia mencatatkan diri sebagai pemasok wisatawan terbesar dengan jumlah 1.745.000 orang, kemudian PR China  (937.000), Australia (830.000), Malaysia (764.000), dan India (726.000). Dengan jumlah itu, maka Indonesia pemasok 18 persen dari total wisatawan yang berkunjung ke Singapura, atau dengan rata-rata kunjungan 150.000 orang per bulannya.

Yang menarik, pasar utama Singapura yakni Jepang, yang pada tahun 2002 masih menduduki peringkat kedua bagi Singapura, tahun ke tahun semakin menghilang dari lima besar.

Untuk Thailand, perkembangan positif memang sedang berlangsung terkait wisatawan asal Indonesia. Rata-rata untuk setiap bulan, jumlah wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Thailand adalah sekitar 20.000 orang per bulan. Data menunjukkan untuk bulan Januari 2007, misalnya, jumlah wisatawan Indonesia berkunjung ke Thailand adalah sebanyak 18.448 orang. TAT mencatat, selama bulan Januari-Oktober 2010, jumlah wisatawan Indoneia 226.742, meningkat 35,4 persen tahun sebelumnya.Lama tinggal rata-rata enam hari dengan pengeluaran 4.200 bath per orang per hari. Pihak otoritas pariwisata Thailand memperkirakan kunjungan orang Indonesia ke Thailand akan bertumbuh 35 persen tahun 2011 dan 2012. Apalagi terakhir ini TAT membuka kantor pariwisata di Jakarta.

Bagaimana dengan kunjungan wisatawan ketiga negara itu ke Indonesia?

Wisatawan Malaysia ke Indonesia  tahun 2006 berjumlah 769.988 orang, dan meningkat menjadi 1.179.366 orang pada tahun 2009 , dari total 6.323.730 orang yang berkunjung di tahun itu. Untuk Singapura, wisatawannya yang datang ke Indonesia tahun 2006 sebanyak 1.401.804 orang, namun tahun 2009 menurun menjadi 1.272.862 orang. Tren menurunnya wisatawan Singapura ke Indonesia ini sudah terjadi sejak 2005 setelah pada 2004 pernah mencatat angka tertinggi 1.644.717 orang.

Sementara untuk Thailand, sejak 2006 terjadi trend kenaikan dari 42,155 orang tahun itu, menjadi  68.050 (2007), kemudian 76.842 (2008), dan naik lagi menjadi 109.547 (2009) atau sekitar 10.000 orang wisatawan Indonesia per bulannya berkunjung ke negeri Gajah Putih itu. Meski naik, kita menghadapi kenyataan pahit jumlah itu sangat kecil dibandingkan dengan jumlah wisatawan Indonesia yang ke sana.

Dari data-data ini apa kesimpulan yang bisa kita petik? Pertama, kunjungan wisatawan Indonesia ke Malaysia, Singapore dan Thailand jauh lebih banyak daripada kunjungan wisatawan negara-negara itu ke Indonesia. Ke Malaysia, dalam setiap bulan wisatawan asal Indonesia terserap sekitar 200.000 orang , sementara wisatawan Malaysia yang berkunjung ke Indonesia hanya berkisar 90.000 orang. Itu artinya defisit 110.000 bagi Indonesia.

Untuk Singapura, jika kita menyuplai 150.000 wisatawan asal Indonesia ke sana, maka Singapura  hanya menyuplai 100.000 wisatawan, dengan kata lain Indonesia mengalami defisit 50.000 wisatawan. Sedangkan untuk Thailand, jika kita memberi wisatawan 20.000 orang, maka kita defisit 10.000 wisatawan dari mereka. Kami meyakini jika penerimaan wisatawan juga dengan mempertimbangkan lama tinggal dan pengeluaran per orang per hari dimasukkan ke dalam hitungan, maka penerimaan Indonesia akan makin minus dibandingkan negara tetangga karena wisatawan Indonesia itu terkenal sangat boros dan suka berlama-lama di sebuah destinasi.

Menariknya lagi, jika Indonesia pada tahun 2011 ini menargetkan 7,3 juta kunjungan wisatawan ke Indonesia, maka Malaysia sudah menargetkan lebih 26 juta, Thailand menargetkan 15 juta kunjungan, dan Singapura  17 juta hingga 2015. Tragisnya, meski capaian 7 juta wisatawan yang berkunjung ke Indonesia tahun 2010 (termasuk tahun 2008) masih diragukan kebenarannya oleh sejumlah kalangan.

Namun begitu, sekali lagi, semoga angka-angka ini dapat menjadi permenungan bagi Kemenbudpar untuk segera memikirkan ulang strategi pemasaran wisata kita, termasuk pengembangan destinasi. Ibarat pisau bermata dua: intensifkan pemasaran di tiga negara itu di satu sisi, dan galakkan kembali kampanye wisata domestik untuk mengajak publik berwisata di dalam negeri, bukan di luar negeri.

Kalau Melaka saja, hanya negara bagian dari Malaysia yang terkenal dengan destinasi pengobatan (medical tourism) dan mencoba membangun diri sebagai Nation Medical Hub, menargetkan 7,2 juta wisatawan tahun 2011, mengapa kita tidak bisa membangun destinasi yang benar-benar tematik semacam itu untuk bidang lain? (paip)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s