Menunggu Langkah Cerdas Menbudpar pada Event Final AFF 2010


Oleh Pusat Analisis Informasi Pariwisata

Pernah berjalan-jalan ke Jalan Gajah Mada/Hayam Wuruk, Jakarta? Coba lihat sebuah billboard yang dipasang di atas kanal Kali Ciliwung menghadap ke Selatan. Sebuah iklan pariwisata Malaysia “Truly Asia” di kawasan pertokoan yang paling ramai komunitas Tionghoa. Apa hubungannya dengan final piala AFF antara Indonesia dan Malaysia yang pada leg  pertama akan digelar di Stadion Bukit Jalil pada 26 Desember 2010, dan leg kedua di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta pada 29 Desember 2010?

Tentu saja billboard itu sudah  dipasang jauh hari sebelum final AFF Suzuki Cup 2010. Maksud kami adalah betapa selama ini Malaysia telah intens berpromosi di Indonesia. Maklum, jumlah wisatawan Indonesia ke Malaysia tahun 2009 saja sudah mencapai angka 2 juta orang, menurut statistik Malaysia (meski banyak juga yang menyangsikan, karena jangan-jangan yang dihitung juga adalah para pekerja migran Indonesia yang datang ke sana?). Bisa dipastikan juga, billboard seperti yang di kawasan Kota, Jakarta tadi, bukan hanya satu-satunya, tapi satu dari sekian banyak, selain promosi di media massa yang terus dilakukan hingga terakhir ini. Maka dalam kaitannya dengan final AFF Suzuki Cup 2010, Malaysia tentu saja berharap kunjungan wisatawan dari Indonesia di penutupan tahun ini, akan bertambah dengan signifikan. Bayangkan saja, hanya untuk 2 kali 45 menit pertandingan sepakbola, akan mampu menyedot puluhan ribu wisatawan yang menonton pertandingan itu.

Tidaklah heran kalau kemudian Malaysia yang sebelumnya konon hanya mematok jumlah tiket 15.000 orang ke tim penonton Indonesia, dari total sekitar 85.000 tiket yang dijual. Lucunya, kalau dilihat dari antusiasme warga negara Malaysia di negaranya sendiri ternyata kurang bergairah juga untuk menonton sepakbola ini, konon dari sekitar 70.000 tiket yang diperuntukkan bagi warga Malaysia, masih banyak yang masih belum terjual. Ada kemungkinan tiket itu juga dijual ke orang-orang Indonesia?

Jika dilihat dari kebijakan Malaysia untuk berpromosi besar-besaran ke Indonesia selama ini, mengapa tidak? Mungkin karena kelewat cinta bola dan sekaligus melepas suntuk dengan libur sekolah yang cukup panjang, orang Indonesia tidak perduli kalau terpaksa harus mengantri di penjualan tiket yang diperuntukkan bagi warga Malaysia di Kuala Lumpur. Besar kemungkinan pula, kalaupun dilakukan pembatasan (pada akhirnya), Malaysia cukup pintar untuk “menampung” para penonton Indonesia melalui nonton bareng yang sudah disiapkan lokasinya. Toh yang terpenting bagi mereka adalah penonton itu datang, menginap, berbelanja ini dan itu, lalu pulang ke Indonesia. Soal uang tiket sebenarnya urusan “kecil”, yang jauh lebih kecil nilainya dibandingkan dengan uang yang penonton belanjakan untuk keperluan beberapa hari di negara itu.

Coba hitung saja sendiri berapa besar keuntungan yang bisa diperoleh dengan hanya sekali pertandingan ini saja. Dari tiket saja, kalau rata-rata yang terjual ke penonton Indonesia 30.000 tiket, maka uang yang sudah diraup (katakanlah rata-ratanya Rp 100.000,-) adalah  Rp3 miliar. Katakan pula, untuk setiap orang mereka yang datang itu membawa uang minimal Rp10.000.000,- untuk tiket pesawat, makan-minum, hotel, maka sudah terkumpul Rp 300 miliar. Belum lagi, misalnya, bagi orang Indonesia yang biasanya terkenal loyar belanja. Dugaan kami, dengan dua hari menginap di Kuala Lumpur untuk satu kali pertandingan final itu, Malaysia bisa mengantungi uang Lebih dari Rp350 miliar (atau sekitar US$35 juta). Hal itu agaknya sepadan dengan kepintaran Malaysia untuk mengolah isu event itu ke dalam sebuah kemasan pariwisata yang menarik, termasuk pejabat-pejabatnya yang turut membuat event itu seakan-akan “segala-galanya” yang semakin mendorong banyak penonton Indonesia datang berkunjung ke Malaysia.

Nah, karena leg kedua nanti ada di Jakarta, pertanyaan kita adalah apakah Indonesia dan atau otoritas pariwisata kita juga sudah membuatkan sebuah rencana yang baik untuk menambah jumlah kunjungan wisatawan ke Indonesia melalui event sepakbola ini? Kita khawatir, gegap gempita final piala AFF kali ini, justru lebih banyak menguntungkan Malaysia daripada Indonesia, atau dengan kata lain, kita dihadapkan pada “neraca perdagangan” yang minus dengan Malaysia. Artinya mereka lebih banyak menikmati keuntungan devisa daripada kita pada event yang sama.

Apakah Kemenbudpar tertarik untuk memanfaatkan event ini atau malah tidur? Apakah mereka akan tetap berpikir bahwa ini hanya urusan dari PSSI atau Kementerian Pemuda dan Olahraga? Jika ya, maka kematian pariwisata Indonesia pun sudah diambang pintu, karena justru burung di depan mata tidak tangkap, justru burung yang terbang di langit yang tinggi coba direbut dengan susah payah. Sebelum ini kita mendengar soal program “injury time” dari Kemenbupar, yakni membuat sejumlah event yang memanfaatkan akhir dan awal tahun ini untuk menarik lebih banyak wisatawan. Berapa anggaran yang harus dihabiskan dan berapa banyak wisatawan yang bisa diraih masih mengambang. Alangkah naifnya Kemenbudpar justru tidak memanfaatkan situasi final AFF ini. Kerjasama yang baik dengan PSSI dan Kementerian Pemuda dan Olahraga tentu sangat kita harapkan bisa terjalin.

Kalau Malaysia bisa menarik sekitar 30.000 wisatawan Indonesia untuk menonton final leg pertama ke Malaysia, bisakah Indonesia menarik setidaknya pada jumlah yang sama untuk datang berkunjung ke Indonesia pada leg kedua yang berlangsung di Jakarta pada 29 Desember nanti? Harus ada |”politik|” yang jelas untuk urusan ini. Dan sebagai otoritas pariwisata, Kemenbudpar jangan hanya melihat soal teknik pertandingan, misalnyal, menang atau kalah, tapi bagaimana berdagang pertandingan itu supaya banyak wisatawan Malaysia berkunjung ke Jakarta. Itulah bisnis yang seharusnya dipikirkan Menbudpar, tidak hanya larut dalam euphoria Irfan Bachdim, Gonzales, Bepe, Okta, atau tersihir dengan Ridle. (paip)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s