Kementerian LH Mengecewakan, Kemenbudar Sedikit Lebih Baik


Suara Karya, Rabu 18 Oktober 2010

JAKARTA (Suara Karya): Kinerja Kementerian Lingkungan Hidup di bawah kepemimpinan Menteri Gusti Muhammad Hatta hanya standar saja dan minim gebrakan untuk melestarikan lingkungan di wilayah Indonesia. Kinerja lebih baik diperlihatkan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata(Kemenbudpar) pada masa satu tahun pemerintahan Kabinet IndonesiaBersatu II. Namun masih banyak kritikan ditujukan kepada Menteri Jero Wacik.

Kalangan DPR, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Pecinta Lingkungan Hidup dan peneliti menilai beragam terhadap satu tahun kinerja Gusti Muhammad Hatta. Secara umum, rapor kementeriaan ini masih kurang memuaskan.

“Kementeriaan Lingkungan Hidup sudah bekerja, namun hasilnya masih jauh dari memuaskan. Ini karena banyak faktor, yang utama karena kerusakan lingkungan kita sudah cukup parah, anggaran yang tersedia minim, serta masa kerja Menteri Gusti Muhammad Hatta baru satu tahun,” ujar Ketua Komisi VII DPR RI yang membidangi lingkungan hidup, Teuku Riefky Harsya.

Anggota Komisi VII dari Fraksi Partai Golkar Dito Ganindito menilai sama, kinerja Kementeriaan Lingkungan Hidup belum optimal, sehingga hanya pantas diberi rapor C. “Banyak sekali masalah kerusakan lingkungan hidup seperti pencemaran laut teluk Jakarta, illegal logging di Kalimantan, belum tertangani,” kata Dito.

Sementara itu, (Walhi menilai kinerja 1 tahun Kementerian Negara Lingkungan Hidup ini gagal. Direktur Eksekutif Walhi Berry Nahdian Forqan mengatakan, pemerintah belum memiliki kebijakan yang kuat untuk pemulihan dan perlindungan lingkungan. Padahal, UU Lingkungan memberikan wewenang kepada pemerintah untuk melakukan pengawasan hingga penegakkan hukum.

“Memang terus terang sampai saat ini kami melihat belum ada gebrakkan yang berarti dari Kementerian Negara Lingkungan Hidup. Padahal kita ketahui kondisi lingkungan kita cukup kritis. Berbagai persoalan lingkungan belum terselesaikan salah satu ini adalah bencana banjir ini yang terus terjadi, belum lagi PR-PR terdahulu seperti pencemaran teluk Jakarta yang sudah dipenuhi sampah, Freeport dan lain sebagainya. Nah, dalam seratus hari ini kami melihat belum ada gebrakan konkret,” katanya.

Seorang peneliti meminta Menteri Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta tegas menyelesaikan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) sebagai pelaksana UUNo 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

“Menteri harus lebih tegas. Jangan terlalu mendengar dari kementerian sektoral yang berpandangan sempit lama karena terlalu banyak pihak yang ingin mengintervensi,” kata Peneliti Senior Indonesian Center For Environmental Law (ICEL), Mas Achmad Santosa, yang lebih akrab dipanggil Ota.

Ota mengatakan MenLH juga harus bisa menyatukan aspirasi di internal KLH sendiri termasuk di kalangan eselon I yang tidak kompak. Untuk menyelesaikan sekitar 28 RPP yang kemudian dirampingkan menjadi 11 RPP tersebut, Ota mengatakan MenLH harus tegas dalam mengambil keputusan.

Pariwisata

Sejumlah pengamat dan praktisi pariwisata memberikan penilaian beragamterhadap kinerja Kemenbudpar. Menurut Ketua Umum DPP Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Ben Sukma Nasution pihaknya memberi catatan pada dua hal, yaitu masalah pendidikan dan pemasaran.

Konsekwensi dari program Visit Indonesia Year (VIY) 2010, kata Ben Sukma, adalah banyak wisatawan berdatangan dari pasar-pasar baru yang baru dibuka maupun digarap pemerintah. Seperti wisatawan dari Timur Tengah, Eropa Timur, Asia Timur dan Asia Selatan. Sementara, SDM pariwisata terbatas.

“Apakah dengan banyaknya wisatawan mancanegara mengunjungi Indonesia sudah didukung oleh kemampuan tenaga-tenaga pariwisata kita? Saya kira belum, dan itu tanggung jawab pemerintah dan swasta yang menyelenggarakan pendidikan kepariwisataan,” kata Ben.

Ia menjelaskan, masalah bahasa menjadi kendala utama. Misalnya, pemandu turis Arab dan China, sangat kurang. Padahal wisatawan di kawasan itu merangkak naik dan menduduki peringkat atas dalam jumlah kunjungan wisatawan. “Janji pemerintah untuk menambah tenaga-tenaga pariwisata dan memberikan sertifikasi, harus benar-benar diwujudkan untuk menjawab permasalahan ini,” katanya.

Sedangkan untuk masalah pemasaran, ia melihat masih banyak dana promosi yang dihambur-hamburkan tanpa melihat skala prioritas. Menurut Ben, sebanyak 60 persen promosi pariwisata tepat sasaran, dan sisanya 40 persen perlu dievaluasi kembali. Contohnya, pemerintah tidak perlu menghambur-hamburkan promosi ke negara-negara yang pangsa pasarnya kurang bagus seperti event di Afrika Selatan dan Rusia.

Sedangkan Direktur Pusat Analisis Informasi Pariwisata Jones Sirait memberikan penilaian berbeda. Ia melihat banyak program menaikkan jumlah wisatawan tidak jalan. Ia juga meragukan target tujuh juta wisatawan mancanegara dalam VIY 2010 akan tercapai.

Ia menilai Menbudpar belum mampu memanfaatkan momentum. Misalnya, dalam pemerintahan SBY relatif kamtibmas terkendali dan stabilitas keamanan terjaga, dan krisis di Thailand.

“Momentum ini sebenarnya sangat bagus untuk memulihkan  pariwisata kita yangsempat terpuruk sejak Bom Bali 2002. Kalau selama ini pemerintah berteriakteriak target kunjungan wisman tercapai, apakah sudah ada  transparansi ?” kata pengamat dari Universitas Indonesia itu.

Sementara itu, anggota Komisi X DPR Ferdiansyah menyatakan, indikasi untuk mengukur kinerja Kemenbudpar adalah di sektor pariwisata, apakah sudah menjadi motor penggerak perekonomian nasional yakni menghasilkan devisa negara, menumbuhkan lapangan kerja, mengentaskan kemiskinan dan pemberdayaanmasyarakat.

Ia menilai, kinerja Kemenbudpar kalau dibaratkan rapor anak sekolah nilainya C. (Sadono Priyo)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s