Nasib Amar Tak Seindah Kupu-kupu Bantimurung


NAMA anak lelaki remaja itu sangat pendek. Amar. Bocah kurus, warna kulit cukup gelap, dan basah kuyup. Sore itu, akhir pekan lalu, hujan membasahi objek wisata Bantimurung, Maros, Sulawesi Selatan; dan remaja berusia 19 tahun itu dengan sigap menambah profesinya dari penjaja souvenir kupu-kupu yang dibentuk sebagai gantungan kunci, menjadi ojek payung.

“Payung, Pak?” tanya dia. Dua anak lain berdiri di belakangnya, juga menawarkan hal serupa. Namun begitu melihat saya keluar dari mobil dengan mengenakan jaket hujan, Amar dengan serta-merta menawarkan yang lain. “Saya ada gantungan kunci kupu-kupu, bagus Pak untuk oleh-oleh,” katanya sambil membuka kantong plastik hitam yang tadi disembunyikan di balik punggungnya.

“Murah, Pak, cuma Rp25.000. Saya punya banyak koleksi, silakan Pak dilihat saja.”

Amar membongkar satu demi satu jenis gantungan kunci yang dibalut fiber glass transparan itu. Menurut pengakuan Amar, kupu-kupu yang ditaruh di sana adalah kupu-kupu yang sudah mati dari penangkaran, kemudian diolah oleh seorang pria bernama Ramli, juga warga Bantimurung.

Ada juga kupu-kupu yang ditangkap sendiri oleh anak-anak di sekitar objek wisata ini. Satu ekor dihargai sejumlah rupiah, sesuai dengan keunikan kupu-kupu. Untuk kupu-kupu yang biasa saja dihargai hanya beberapa ribu saja, kecuali yang jarang ditemukan yang tentu saja lebih mahal harganya.

Saya yang awam jelas bingung memilih yang benar-benar bagus. Hhm, bagaimana bisa mengenali kupu-kupu yang mahal harganya? Apakah karena warna kupu-kupunya yang indah? Bagi saya tentu saja sulit, tapi bukan bagi Amar. “Yang mahal itu Pak, kalau sayap belakangnya panjang,” katanya. “Juga kalau antara corak dan warna sayap sebelah kanan tidak sama dengan yang sebelah kiri.”

Bantimurung yang terletak di Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Kabupaten Maros, Sulsel; memang sudah terkenal ke seantero dunia karena keunikan kupu-kupu yang dimilikinya. Namun sayang jumlah spesies mereka terakhir ini terus berkurang. Jika pada tahun 1857 Wallace berhasil menemukan 270 species maka tahun 1997, seperti temuan Prof Andi Mappatoba Sila dari Unhas hanya menemukan 147 species. Delapan tahun kemudian, Farid Suaib, eks pejabat Bupati Maros menginformasikan spesies kupu-kupu yang ada di Bantimurung tinggal separuh (135) dari jumlah yang sebelumnya pernah ada.

Hampir satu setengah abad saja separuh (54 persen) spesies kupu-kupu mengalami kepunahan. Sebuah angka kepunahan yang cukup tinggi. Bila tidak ada upaya yang dilakukan untuk melestarikan kupu-kupu, istana kupu-kupu bisa jadi tinggal cerita pada tahun 2153. Hal ini menjadi tantangan bagi ahli konservasi untuk mencegah punahnya jenis kupu-kupu langka itu.

Selain sorga bagi kupu-kupu, kawasan kars yang pernah diajukan menjadi heritage dunia ini, juga dikenal dengan gua-gua kars bersejarah, seperti kompleks Gua Leang-leang yang pada dindingnya ditemukan bekas telapak tangan manusia dan gambar binatang, termasuk bekas kerang-kerangan. Ada puluhan gua yang sudah teridentifikasi, namun hanya beberapa saja yang benar-benar diawasi.

Sayang sekali, penggarapan objek wisata ini masih belum ditata dengan baik. Kondisi jalan terutama menuju objek Leang-leang rusak parah, fasilitas pendukung sangat minim serta mulai tergerusnya keindahan kars Maros-Pangkep oleh ulah pertambangan yang dilakukan oleh Tonasa dan Bosowa, baik yang ada di Kabupaten Maros maupun yang ada di Kabupaten Pangkep.

Jika keindahan alam kars ini bisa dikelola dengan baik, tentu saja masyarakat yang ada di sekitar destinasi ini dapat menangguk keuntungan besar dan tidak lagi hanya menggantungkan hidup sebagai petani. Pariwisata belum bisa dijadikan sandaran hidup saat ini bagi mereka. Apalagi dalam pengamatan begitu banyak instansi yang terus bersinggungan di sana, sebut contoh kritik terhadap Pemda yang hanya senang menarik retribusi tapi tanpa mau terlibat dalam pemeliharaan objek wisata, kecuali hanya melemparkan tanggung jawab kepada pusat.

Kalaupun ada wisatawan asing yang datang ke sini, mereka ternyata hanya sekadar lintas saja, karena mereka lebih memilih Tana Toraja, yang letaknya lebih di utara atau 6-7 jam perjalanan jauhnya begitu wisatawan itu tiba di pintu kedatangan Bandara Sultan Hasanuddin, yang secara administratif masuk Kabupaten Maros.

Seandainya pariwisata kars Maros-Pangkep digarap dengan sungguh-sungguh, maka anak-anak seperti Amar pun tentunya akan tersenyum senang setiap kali dia akan kembali ke rumah, tidak seperti sekarang yang memaksanya untuk selalu bermuram durja begitu akan pulang.

Maklum, Amar memang anak bungsu yang terpaksa harus menjadi tulang punggung keluarganya. Remaja ini harus memberi makan ibu dan tiga orang keponakannya yang ada di rumah. Ayahnya yang tadinya petani sudah lama meninggal, sedangkan kakak-kakaknya yang lain untuk menghidupi keluarganya sendiri juga susah.

“Ibu tidak bekerja?” tanyaku kepada remaja yang hanya lulus SD ini.

“Ibu saya, Pak? Ibu saya ada di rumah, tidak bekerja. Saya harus menghidupi empat orang, ibu dan keponakan saya yang ada di rumah, ya dengan menjual kupu-kupu ini dan menjadi ojek payung kalau sedang hujan.”

Amar mengaku dia hanya mengantungi Rp2.500 dari setiap gantungan kunci yang laku dijual. Dari Ramli, pemilik dagangan itu dia sudah dipatok harga yang harus dia setorkan. Padahal tidak semua pengunjung yang tertarik membeli kupu-kupu itu. Bahkan antara hari Senin sampai Jumat jumlah pengunjung pun tidak terlalu banyak kalau tidak boleh disebut sepi. Hanya hari Sabtu dan Minggu saja yang lumayan banyak pengunjungnya.

Tapi, di tengah asik berbincang-bincang, tiba-tiba saja Amar terlihat kikuk. Wajahnya mendadak pucat ketika mengetahui seorang pria, yang kemudian diketahui sebagai petugas Polisi Kehutanan datang melintas dengan sepeda motornya di dalam areal Bantimurung itu. Amar dengan cepat merampas gantungan kunci yang ada di tanganku dan dengan tergesa memasukkannya kembali ke dalam kantongan plastik hitam tadi.

“Ada apa?” tanyaku.

“Maaf, Pak, itu ada Polisi Kehutanan. Saya takut dagangan saya nanti dirampas oleh dia. Maaf ya, Pak, kupu-kupunya saya masukkan lagi,” kata Amar.

Menurut kisah Amar, beberapa hari lalu Polisi Kehutanan menangkap dagangan seorang temannya dan tidak pernah dikembalikan lagi sehingga terpaksa temannya itu menanggung kerugian karena gantungan kunci kupu-kupu itu ditangkap petugas.

“Tolong saya boleh, Pak?” pinta Amar. Dia terus mengamati dengan cemas seorang pria yang mondar-mandir mengintainya saat berbincang. “Saya menitip kantongan plastik saya di mobil Bapak saja, nanti di depan akan saya ambil. Saya takut Pak, nanti ditangkap.”

Remaja itu dengan sigap menyelipkan kantongan plastik hitam yang berisi kantongan kunci itu ke dalam mobil. Lalu dia kabur ke arah depan dengan payung yang masih digamitnya. Saya memandanginya dengan rasa kasihan. Juga dengan rasa penasaran ingin tahu mengapa anak itu menjadi ketakutan sekali terhadap Polisi Kehutanan itu.

Setelah keluar dari dalam objek wisata, tepatnya di halaman parkir luar, yang dibatasi dengan gerbang dan konter petugas karcis masuk, saya baru mengetahui bahwa ada larangan bagi siapapun untuk menjajakan dagangannya di dalam objek wisata itu.

Jika ketahuan petugas maka dagangan itu akan disita.

Tak peduli apakah anak sekecil Amar harus meraung-raung untuk menomboki uang ke pemilik dagangan itu… (jones sirait)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s