Pariwisata Indonesia Mau Kemana?


Oleh Pusat Analisis Pariwisata Indonesia

Pariwisata selalu terkait kepada tiga elemen spasial yakni daerah asal (the tourist generating region) atau disebut juga sebagai “push factor“, daerah tujuan (the destination regions) atau disebut “pull factor“, dan rute antara daerah asal dan tujuan (the routes people follow between the generating and destination regions), yang  disebut sebagai the tourist system (After Leiper,1991).

Itu sebabnya ketika menyebut pasar, maka yang sebenarnya kita bahas adalah destinasi serta rute maupun transportasi yang melingkupinya. Fokus pasar adalah bagaimana kita menentukan pasar untuk satu destinasi secara intensif dan bagaimana bauran pemasaran dilaksanakan dengan efektif.

Sejak 10 tahun terakhir, ada tendensi bahwa pengambil kebijakan memiliki kecenderungan untuk melakukan pemasaran tanpa memikirkan dampak dan kesinambunganannya. Pengambil kebijakan sepertinya tergoda untuk mengadakan proyek apa saja tanpa sasaran yang jelas. Hal itu terbukti belum adanya grand design pariwisata di tingkat makro menyebabkan kesulitan tersendiri bagi perencana pemasaran karena tidak adanya prioritas-prioritas termasuk dalam kaitannya dengan pembangunan destinasi.

Pada satu sisi kita patut mensyukuri otonomi daerah karena dengan kewenangan pengelolaan APBD secara otonom mendorong peningkatan anggaran belanja untuk pembangunan pariwisata secara nasional, namun pada sisi lain telah ikut mendorong politik pariwisata yang tanpa fokus pengembangan.

Mau kemana pariwisata Indonesia?

Dalam konteks pemasaran pariwisata, antara negara pasar yang menjadi sasaran dan destinasi merupakan dua hal yang tak bisa dilepaskan. Faktanya setiap destinasi di Indonesia memiliki pasar yang berbeda, sehingga program pemasaran yang dilakukan haruslah sedapat mungkin mempertimbangkan kekuatan destinasi yang bersangkutan. Dan akibat terbatasnya anggaran yang dikeluarkan pemerintah setiap tahun maka tidaklah efektif jika tanpa prioritas. Sementara prioritas hanya akan muncul jika ada grand scenario yang menjadi pegangan para pemasar.

Begitu pula dengan pendekatan pemasaran yang dilakukan, perlu dievaluasi secara lebih mendalam dimana letak kegagalan yang ada.

Dalam rangka Visit Indonesia Year, kita bagaimanapun tidak bisa lagi mempertahankan posisi menembak tanpa sasaran yang jelas. Kita harus memiliki kesungguhan untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik, dengan memiliki tangan yang kuat dalam urusan perencanaan, pelaksanaan dan monitoring program ini dengan baik.

Pertanyaannya adalah bagaimana kita harus memfokuskan diri?

Seperti telah disinggung sebelumnya, fokus pasar itu memiliki banyak dimensi, salah satunya adalah fokus destinasi, fokus produk dan pelayanan.  Kita harus memiliki keberanian untuk mendekatkan pemasaran lebih pada wilayah geografis lebih kecil yakni destinasi/daerah/kawasan, meski tidak pula meninggalkan aspek makro (nasional). Dengan demikian konsep atau pendekatannya harus dimulai dari pembenahan dan atau pemberian prioritas pada produk/destinasi pilihan, untuk selanjutnya menentukan pasar yang sesuai dengan kekuatan produk/destinasi tersebut.

Pada tahap berikutnya, yang terkait dengan metoda dan teknik pemasaran, sebaiknya lebih mengarah kepada konsep bilateral (one to one) sehingga lebih fokus. Satu destinasi (kawasan wisata) ke satu group pasar utama, dan perlu pula selektif dalam mengikuti kegiatan pameran/penjualan internasional.

Untuk memfokuskan diri pada produk/destinasi, perlu sekali mengklasterkan pengembangan destinasi berdasarkan kekuatan kawasan. Pertanyaan yang sangat mendasar adalah mengapa kita hingga kini belum berhasil mengembangkan destinasi wisata lain selain Bali, Jakarta dan Batam. Kita bahkan belum menemukan formulasi yang tepat bagaimana mengintegrasikan konsep kawasan ekonomi terpadu dengan pengembangan pariwisata, meskipun secara politik, pariwisata itu sudah dikembalikan ke domain perekonomian.

Dalam konteks pemasaran, kita sepertinya harus mengubah cara pandang lama, dengan terkooptasi pada iklan atau advertising. Pengembangan metoda pemasaran yang efektif harus ditempuh. Anggaran yang besar tidak akan berarti tanpa penempatan belanja yang benar.

Sejumlah promosi atau keikutsertaan dalam event pameran internasional harus hati-hati dan selektif. Begitujuga dengan road show atau penjualan langsung, harus diperhitungkan matang-matang. Enam destinasi utama itu harus diutamakan namunhanya kepada event promosi atau penjualan di pasar masing-masing.

Kita perlu mengingatkan pengorganisasian VIY harus lebih baik, yang mencerminkan adanya kerjasama antara pusat-daerah, antar-sektor, dunia usaha danmasyarakat. Harus ada transparansi anggaran. Harus ada pula kelembagaan monitoring dan pengawasan. Kemenbudpar tidak mungkin bisa berjalan sendiri dalam hal ini.

Dalam konteks wisata MICE, kita hingga kini belum melihat adanya upaya kuat dari pemerintah untuk mengatur skema insentif bagi para Asosiasi Internasional, PCO maupun wisatawan MICE yang menggelar event MICE di Indonesia. Demikian juga dalam konteks peningkatan pelayanan terhadap wisatawan, kita masih belum melihat upaya serius yang dipersiapkan bagi wisatawan dalam rangka tahun kunjungan wisata itu. Padahal harusnya VIY merupakan hal spesial yang diperlakukan spesial pula, kalau tidak akan dipertanyakan apakah yang membedakannya dari tahun-tahun sebelumnya jika ternyata sama saja?

Pariwisata kita butuh keseriusan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s