Buruknya “Zoo” dan Pariwisata Indonesia


Oleh Pusat Analisis Informasi Pariwisata

Bagaimanapun konsepnya,  sebuah zoo (kebun binatang)  tetaplah sebuah “zoo”. Ia merupakan “etalasi” atau tempat untuk menonton binatang. Tempatnya bisa dibuat menyerupai alam asli dari koleksi binatang yang dikumpulkan dari banyak tempat atau negara. Harapannya, dari sisi pariwisata, wisatawan tak perlu harus terbang ke China jika ingin melihat panda, atau melihat sebuah harimau Sumatera di habitat aslinya di hutan Sumatera, atau orangutan di Kalimantan. Anda cukup datang ke sini: zoo.

Dengan perkembangan yang ada, misalnya, konsep zoo terbuka dengan misi konservasi eks-situ. Begitu juga fungsi lain seperti riset dan pendidikan. Dan dalam konteks pariwisata, sebuah zoo atau taman safari atau nama lain, merupakan objek wisata, dan jika ditinjau lebih luas dia juga akan menyentuh pemasaran pariwisata daerah atau negara tempat binatang itu berasal.

Maka Singapura boleh tersenyum dengan Singapore Zoo. Negara kota sempit yang terus berupaya memperbesar teritori daratannya dengan reklamasi ini, rela mengorbankannya 28 hektar tanahnya, untuk didiami 2.530 jenis binatang dari 315 spesies, 16 persennya adalah jenis yang hampir punah. Tak mengecewakan, sekitar 1,4 juta wisatawan datang ke sini setiap tahunnya. Bahkan, Forbes Traveller memberikan peringkat untuk kebun binatang ini di peringkat 10 terbaik kebun binatang di dunia. Dengan manajemen yang bagus, penataan yang apik, bersih, aman dan nyaman, mereka bisa mengambil keuntungan dari kekayaan flora dan fauna negara lain sebagai produk dan jasa yang dijual ke wisatawan.

Di Indonesia, ada Kebun Binatang Ragunan yang ada di Jakarta Selatan. Luasnya tentunya lebih luas daripada milik Singapura, yakni 140 hektar, dengan dihuni sekitar 3.800 jenis hewan, 295 spesies dan lebih 50.000 spesimen, yang 90 persennya adalah asli dari alam Indonesia. Tapi, coba lihat kondisinya. Toilet bau, kotor dan harus bayar pula. Badut “pemeras”, tukang foto berkeliaran seperti penagih hutang, dan meskipun pengunjung membawa kamera, mereka menjepret kameranya lalu memaksa pengunjung untuk membayar jepretannya.

Tak hanya itu, sampah bertebaran dimana-mana, dan keamanan tempat parkir tidak terjamin dan sering dilaporkan banyak kendaraan yang hilang. Bahkan banyak copet juga berkeliaran. Dari sisi aksesibilitas di dalam kebun binatang juga sering mendapat keluhan, antara lain jarak antara hewan satu dengan yang lain terlalu jauh, sehingga membuat pengunjung cepat lelah. Tempat hewan kurang diperhatikan dan terkesan jorok, peta petunjuk lokasi binatang juga selain tidak up date, juga meragukan apakah binatang yang dimaksud memang ada atau bersembunyi. Jika ada yang masih dipuji adalah pepohonannya sangat rindang dan enak untuk berpacaran. Apalagi tiket masuknya cukup murah.

Inilah nasib zoo Indonesia, yang jelas-jelas lebih hebat dari sisi koleksi dan luasnya daripada Singapura, tapi jeblok dari sisi manajemen. Bahkan, ketika banyak zoo terhebat di dunia membanggakan binatang-binatang dari hutan tropis Indonesia, kita sendiri tidak mampu untuk memanfaatkan kondisi itu bagi sumber pendapatan negara dan masyarakat secara optimal.

Di Prague Zoo, sebuah paviliun dibuat sangat menarik dan menjadi perhatian para pengunjung di sana. Paviliun itu diberi tajuk “Hutan Indonesia” dan “Pulau Kera” dengan permainan interaktif dengan flora-fauna asal Indonesia. Di tempat lainnya, ada Area Anak-anak dan Children Zoo, ada mesin tempat pembelian berbagai mainan binatang penuh warna.

Bronx Zoo, New York, Amerika Serikat merupakan zoo terbesar di Amerika Serikat, tempat tinggal 4.000 jenis hewan. Di sana ada monorail yang menghubungkan jalan “Wild Asia”, yang memungkinkan pengunjung untuk menemukan berbagai hewan yang berasal dari Asia, khususnya Indonesia.

Begitu besarnya perhatian para pengelola zoo dunia terhadap kekayaan flora dan fauna Indonesia, sehingga mereka sangat tertarik untuk mengimpornya dari Indonesia. Mereka menikmati banyak keuntungan, sementara kita pemilik asli flora dan fauna itu tidak begitu mampu mengelolanya dengan baik. Apa yang terjadi di Kebun Binatang Ragunan itu menjadi contohnya.

Tapi, kita tentunya kita perlu memuji apa yang telah dan sedang dilakukan oleh Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua, Kabupaten Bogor, kini kian lengkap dengan adanya taman burung termegah di dunia. Sebagai objek wisata nasional, TSI merupakan kebun binatang terbesar di Asia Tenggara yang setiap tahun dikunjungi tak kurang dari 1,3 juta wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Koleksinya semakin banyak, fasilitasnya semakin baik dan variasi paket dan event pun dibuat, meskipun dalam beberapa hal muncul juga kritik terhadapnya, misalnya soal keamanan.

Kita  memiliki mimpi yang sangat besar terhadap hal ini, yakni kita memiliki sebuah zoo nasional,  yang terbesar (dari segi luas dan koleksi binatangnya) dan menarik dan aman dikunjungi, semacam Taman Mini Indonesia Indah (TMII) namun khusus untuk koleksi binatang. Sebuah mimpi yang menempatkan kita bukan hanya mengekspor flora dan fauna tapi justru mengimpor yang tidak kita miliki untuk bisa juga ditampilkan lebih menarik di negeri kita sendiri.

Menurut catatan ProFauna, diperkirakan sebanyak 300.000 jenis satwa liar atau sekitar 17 persen satwa di dunia terdapat di Indonesia. Indonesia nomer satu dalam hal kekayaan mamalia (515 jenis) dan menjadi habitat dari sekitar 7.500 jenis burung, reptil 2000 jenis, amfibi 1.000 jenis, keong 20.000 jenis, serangga 250.000 jenis. Sebanyak 45% ikan (8.500 jenis) di dunia, hidup di Indonesia.

Meskipun kaya, namun Indonesia dikenal juga sebagai negara yang memiliki daftar panjang tentang satwa liar yang terancam punah. Saat ini jumlah jenis satwa liar Indonesia yang terancam punah adalah 147 jenis mamalia, 114 jenis burung, 28 jenis reptil, 91 jenis ikan dan 28 jenis invertebrata (IUCN, 2003). Satwa-satwa tersebut benar-benar akan punah dari alam jika tidak ada tindakan untuk menyelamatkanya.

Perdagangan satwa liar menjadi ancaman serius bagi kelestarian satwa liar Indonesia. Lebih dari 95 persen satwa yang dijual di pasar adalah hasil tangkapan dari alam, bukan hasil penangkaran. Lebih dari 20 persen satwa yang dijual di pasar mati akibat pengangkutan yang tidak layak. Berbagai jenis satwa dilindungi dan terancam punah masih diperdagangkan secara bebas di Indonesia.

Mengapa kita tidak bisa mengelola ini dengan baik? Kapan kita memiliki sebuah zoo yang benar-benar representatif dan membanggakan? Hal yang sama juga perlu dipertanyakan, misalnya, kapan kita punya museum yang benar-benar terbaik, termegah, terpenting di dunia?

Kusutnya wajah zoo ini, setuju atau tidak,  bisa mencerminkan kusutnya pengelolaan pariwisata kita secara keseluruhan. Bangsa besar harusnya mampu mengelola apapun secara benar dan besar. Setuju?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s