Mengapa Pariwisata Kita Gagal? (1)


Oleh Jones Sirait
Pusat Analisis Informasi Pariwisata

If you don’t like your result, change your approach, begitu nasihat Burke Hedges penulis “Who Stole the American Dream”. Tapi, berapakah diantara kita yang benar-benar ingin berubah dengan kesadaran 100 persen. untuk kebaikan bersama, meskipun hal itu sulit dan menyakitkan? Ada, tapi mungkin tak banyak, selebihnya adalah tetap menghendaki status quo.Perubahan agaknya lebih enak dipandangi dari jauh, dan sama sekali tak suka untuk menyentuhnya.

Penyakit ini, saya kira, telah melanda dunia pariwisata kita. Saya ingin mengatakan bahwa hal ini memang telah menjadi kecemasan saya di tengah euphoria reformasi sepanjang dekade ini: saat semua mencoba untuk mereformasi diri, pariwisata kita agaknya telah luput (atau enggan) mereformasi dirinya.

Sejumlah fakta dan analisis yang saya sampaikan untuk menunjukkan betapa pentingnya agenda perubahan itu kita lakukan saat ini, dalam situasi kompetisi regional dan global yang semakin keras. Sebagai contoh, mari kita lihat situasi 1997, lebih dari 10 tahun lalu, ketika jumlah kunjungan wisatawan asing ke Indonesia (5,2 juta), angka yang tidak terlalu mencolok perbedaannya dengan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Malaysia (6,2 juta), Singapura (7,1 juta) dan Thailand (7,2 juta). Vietnam, ketika itu tentulah masih belum masuk hitungan karena jumlah wisatawan asing yang mereka terima hanya 1,7 juta.

Lihatlah 10 tahun kemudian atau tahun 2007. Disparitas angka perolehan wisatawan tampak menyedihkan; ketika Malaysia sudah melipatgandakan penerimaan wisatawan asingnya hingga 100 persen (13 juta), Thailand (14 juta) dan Singapura (8 juta), kita malah masih bertahan pada angka 5 juta. Vietnam yang dulu masih belajar berjalan, satu dekade kemudian sudah hampir sejajar dengan Indonesia dengan wisatawan sebanyak 4,2 juta!

Lihat pula, bagaimana perkembangan destinasi di negara-negara tetangga itu yang sudah tidak terpusat hanya pada satu-dua titik saja di negaranya, sementara Indonesia tetap masih terkonsentrasi pada Bali dan selama lebih 10 tahun belum berhasil mengembangkan destinasi baru yang bisa disejajarkan dengan destinasi “tua” (mature) itu. Juga terjadinya pengembangan pasar, yang tidak hanya menggantungkan diri pada pasar lama, tapi sudah berhasil menambah pasar baru baik itu dalam konteks asal wisatawan maupun pengembangan segmen-segmen wisata produktif dan segmen-segmen kreatif yang memberikan nilai tambah bagi industri pariwisata maupun ekonomi mereka.

Tak hanya itu, lihat juga bagaimana perkembangan drastis yang dialami Singapore Airlines, Thai Airways atau Malaysia Airlines, pada saat yang sama maskapai penerbangan kita, Garuda Indonesia Airlines (GIA) justru terseok-seok, bahkan dienyahkan dari Uni Eropa. Untunglah saat ini mulai bangkit lagi.

Mengherankan karena kita sangat memahami negara-negara ini sama-sama dihempas oleh krisis ekonomi pada 1997-1998, sama-sama pernah diguncang oleh gempa dan tsunami tahun 2004, sama-sama menghadapi bahaya penyakit (SAR, flu burung dan flu babi), dan sama-sama mengalami konflik keamanan dan politik, meskipun skalanya masing-masing memang tidaklah sama.

Thailand, misalnya, selain menghadapi konflik politik (perebutan kekuasaan antarpartai) yang menciptakan instabilitas negara sepanjang 2000-2008, juga menghadapi bahaya separatisme dan konflik bersenjata di Thailand selatan hal yang masih belum terselesaikan sampai sekarang. Malaysia juga, selama periode yang sama, menghadapi konflik politik, dan konflik etnis di dalam negeri yang tidak boleh dianggap sepele, selain peristiwa tsunami.

Apa yang salah? Itu pertanyaan yang harus kita jawab.

Bila kita lihat dalam kurun waktu itu, China telah berubah. Ia lebih terbuka secara ekonomi dan secara mentalitas dunia usaha mereka mengalami kebangkitan spirit kewirausahaan yang demikian mengagumkan. Mereka memangkas regulasi yang mempersulit kedatangan wisatawan, mereka melakukan sinergi dan meraih sebanyak mungkin event MICE dan mereka membidik nilai tambah dari isu kebangkitan ekonomi ke dalam strategi pariwisata mereka.

Untuk ukuran lebih kecil, destinasi wisata Hawaii juga berubah. Salah satu agenda perubahan yang mereka lakukan adalah upaya untuk merubah citra pariwisata mereka dari citra sebagai destinasi ”alam dan budaya” yang digambarkan beberapa dekade sebagai ”aloha”, menjadi “more than sun, sand and surf”, menjadi lebih ke ”bisnis” yang tak lain adalah MICE. Inilah tagline baru mereka: ”Where Business Meet Aloha”. Hal itu tentunya dilakukan setelah sebelumnya melakukan riset yang sangat serius dan didukung kampanye yang rapih dan efektif.

Negara-negara ”pendatang baru” seperti Afrika Selatan dan Vietnam juga berubah. Afrika Selatan menghentak maju dengan visi baru pariwisata dimulai dari ”pertarungan” besar yang terlihat dari bidding menjadi tuan rumah FIFA World Cup 2010.

Mereka berubah, mengapa? Karena di luar sana, semua bergerak ke arah baru, etik baru, budaya baru, tantangan baru. Mereka tak menganggap bahwa dengan tidak berbuat apa-apa mereka akan mampu memenangkan kompetisi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s