Bali, Jakarta, Batam, dan Politik Ketahanan Pariwisata


Oleh Jones Sirait
Pusat Analisis Informasi Pariwisata

Ketika Jakarta mengalami kondisi instabilitas keamanan pada periode 1998-1999, jumlah wisatawan Indonesia berkunjung ke Indonesia secara nasional melorot secara signifikan dari tahun 1997, atau dari 5.185.243 orang wisatawan (1997) menjadi 4.606.416 orang (1998).  Namun begitu, selama dua tahun itu, jika di Jakarta mengalami penurunan drastis wisatawan, maka di Bali dan Batam justru terjadi relatif konstan dan malah terjadi peningkatan khususnya jika dibandingkan dengan tahun 1999.

Sebagai contoh, pada tahun 1997 jumlah kunjungan wisman yang masuk dari pintu kedatangan Soekarno-Hatta (Jakarta) dari 1.457.340 orang, melorot hingga menjadi 883.016 orang (1998) dan 819.318 orang (1999), namun untuk  Ngurah Rai (Bali) jika tahun 1997 adalah 1.293.657 orang maka tahun 1998 dan 1998 dari kondisi relatif konstan hingga menaik yaitu berturut-turut 1.246.289 dan 1.399.571 orang.  Kondisi lebih baik lagi ditunjukkan oleh Sekupang (Batam), yang pada 1997 berjumlah 1.119.238 orang menjadi 1.173.392 orang (1998) naik lagi menjadi 1.248.791 orang (1999).

Pertanyaan kemudian adalah apakah Jakarta dan Batam juga akan menikmati “imbasan” wisatawan jika Bali terkena status “darurat”? Untuk menguji hubungan ini, kita memiliki contoh konkrit yaitu ketika serangan bom yang melanda Bali pada 2002 (12 Oktober 2002).

Dampak jelas dari serangan teroris pada tahun 2002 memang telah mendorong menurunnya kunjungan wisatawan ke Bali baik pada tahun 2002 dan 2003. Jika pada tahun 2001 jumlah kunjungan wisman yang datang melalui Ngurah Rai 1.422,714 orang, maka hingga akhir 2002 jumlahnya menurun menjadi 1.351.176 orang, lalu turun lagi pada 2003 hingga menjadi 1.054.143 orang.

Perbandingannya untuk Jakarta, rupanya justru terjadi juga penurunan. Ketika bom Bali 12 Oktober 2002 terjadi, pada tahun 2002 jumlah kunjungan wisman ke Jakarta melalui pintu masuk Soekarno-Hatta, adalah 1.095.507 orang lalu pada 2003 melorot menjadi 921.737 orang.  Sebaliknya, ketika kasus darurat terjadi di Bali, destinasi Batam justru menunjukkan jumlah kunjungan wisman yang meningkat yaitu dari 1.145.578 orang (2001) menjadi 1.285.394 (2003). Pintu kedatangan lain seperti Polonia  menurun, juga dengan pintu kedatangan lainnya.

Apa yang menarik dari fakta-fakta ini? Yang menarik adalah bahwa pada saat sebuah destinasi berada pada status “darurat”, maka dua destinasi lain yaitu Bali dan Batam dapat memainkan peranan sebagai “penyangga”, “buffer” atau “escape destination” atau istilah lain yang berperan sebagai “tumpuan harapan” bagi kesinambungan pariwisata Indonesia. Masalah yang kemudian rumit adalah bagaimana jika Bali dan Batam yang berada dalam kondisi “darurat”? Adakah destinasi lain siap untuk mengambil posisi sebagai “penyangga” atau “tumpuan harapan”?

Fakta ini harusnya mendorong kita untuk lebih serius untuk menggarap apa yang disebut Ketahanan Pariwisata Indonesia, yakni  kondisi dinamis pariwisata Indonesia untuk mengembangkan kekuatan pariwisata nasional dalam menghadapi berbagai bentuk ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan yang mengancam kehidupan pariwisata nasional. Konsep pengembangan destinasi yang terarah, konsisten dan berkesinambungan harus dilakukan, yang bukan hanya sibuk diseminarkan, menjadi salah satu bagian integral dalam memperkuat ketahanan pariwisata itu.

Konsepsi ketahanan pariwisata itu harus mampu melahirkan destinasi lain yang kuat, pemasaran yang tepat dan penyelenggaraan pemerintahan yang efektif dan bersih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s