Integrasi Pariwisata dan Ambisi Transportasi Nasional


Oleh Jones Sirait
Pusat Analisis Informasi Pariwisata Indonesia

EKONOMI dan pariwisata kita sangat tergantung pada perjalanan udara. Wisatawan asing yang menggunakan pesawat udara mencapai lebih dari 90 persen dari jumlah wisatawan asing yang berkunjung. Penggunaan moda angkutan laut dan darat dalam konteks wisatawan asing sejauh ini tampak kecil dan terbatas dominasinya hanya untuk destinasi tertentu, meskipun potensinya sangat besar ke depan. Misalnya dalam pengembangan transportasi laut dari Singapura dan Malaysia ke Kepri dan Bangka Belitung dan terbukanya pengembangan lebih intensif pada segmen wisata cruise dan kapal layar wisata.

Sedangkan penggunaan moda angkutan darat meskipun sangat terbuka untuk perbatasan darat kita dengan Malaysia dan Papua Nugini, tapi perannya masih sangat terbatas hanya pada titik perbatasan Kalimantan Barat dan Malaysia. Kedepan, pengembangan pariwisata di perbatasan darat Kalimantan Barat, misalnya, akan sangat tergantung dari faktor pengembangan daya tarik di sisi Kalbar. Jika kita gagal mengembangkan itu, kita hanya akan memberikan banyak untuk Malaysia daripada apa yang kita peroleh darinya.

Ketergantungan yang sangat besar dari sisi angkutan udara ini, mendorong pentingnya perhatian terhadap keberadaan bandar udara di tanah air. Sudah siapkah bandara kita untuk mengakomodasi perkembangan lalu-lintas udara yang semakin cepat dan besar ke depan? Sudah memadaikah perencanaan jangka panjang pembangunan bandara khususnya dan transportasi udara umumnya perkembangan tantangan perkembangan itu?

Sebagai negara maritim dan memiliki posisi geografis yang strategis antara dua benua dan samudera kita ternyata belum berhasil menciptakan diri sebagai negara dengan bandara dan pelabuhan laut terbesar dan terpenting dan terbesar di kawasan ini. Hal yang kemudian akan berdampak besar bagi pertumbuhan pariwisata kita.

Sebaliknya, kita lihat Singapura; negara kota dengan luas negara yang tidak lebih besar dari salah satu pulau kita di Kepri atau Babel, justru menjadi sangat penting dalam ekonomi dan pariwisata dunia dengan kekuatan bandar udara maupun pelabuhan lautnya. Lokasinya yang menjadi pintu keluar masuk ke Selat Malaka, yang menjadikannya sebagai selat tersibuk di dunia, meski pada dasarnya dominan adalah pintu utara ke utara.

Uniknya, kekuatan transportasi laut itu juga secara meyakinkan, melalui perencanaan yang kuat dan visioner, mereka bisa menjadikan negaranya sebagai pusat transportasi udara di kawasan ini. Kuncinya adalah penguasaan bisnis penerbangan dan kapasitas dan kapabilitas airport internasional yang mereka miliki. Singapura telah menjadi pusat distribusi terpenting wisatawan bukan hanya di ASEAN tapi juga Asia Pasifik, bahkan menjadi pusat ekonomi dan layanan yang terbaik di dunia.

Tak hanya Singapura, bahkan Malaysia dan Thailand pun sudah melesat maju dibandingkan kita. Padahal, kita lihat kedua negara itu tidaklah lebih baik daripada kita dari sisi lokasi dan kekayaan sumber daya alam, sosial dan budaya yang dimiliki.

Fakta ini bisa sedikit menjelaskan. Dua airport di Asia Tenggara telah mencatatkan diri sebagai 10 besar airport terbaik dunia versi Skytrax, yakni Changi (Singapura ranking 3), dan Kuala Lumpur (Malaysia ranking 7). Tiga besar malah dikuasai oleh bandara internasional di Asia yakni Incheon (Seoul, Korsel pada ranking 1), Hongkong (ranking2) dan Changi (ranking 3).

Oleh institusi yang sama, Singapore Airlines dan Malaysia Airlines tercatat sebagai “The World’s 5-Star Airlines” bersama dengan Cathay Pacific, Qatar Airways, Kingfisher Airlines dan Asiana Airlines. Thai Airways diberi bintang empat, sementara Garuda Indonesia diberi bintang 3 dan Merpati (bintang 2).

Dilihat dari posisi geografis tadi maka peranan transportasi laut (pelabuhan laut) kita seharusnya setidaknya memiliki posisi yang setara dengan Singapura. Jika mereka menjadi pintu penting jalur utara-utara, maka kita menjadi pintu satu-satunya yang paling memadai untuk menjadi pintu gerbang utara-selatan, meskipun kita akui negara-negara di belahan bumi selatan itu tidak sepadat di utara.

Demikian juga dengan keberadaan airport internasional, seharusnya kita menjadi penguasa transpacific maupun transoceania. Apa yang salah dalam perencanaan pembangunan transportasi kita? Betulkah kita terlalu fokus pada pengembangan transportasi dalam negeri dan melupakan kompetisi global yang justru bisa mempengaruhi kemampuan ekonomi kita? Bagaimana seharusnya perencanaan pembangunan jangka menengah dan jangka panjang mampu mengadopsi sebuah strategi besar bidang transportasi ini sebagai bagian dari percepatan dan peningkatan daya saing ekonomi dan pariwisata kita di tingkat global?

Andai saja kita bisa mengembangkan airport dan infrastruktur pendukungnya, serta  memilih lokasi pusat pengembangan yang tepat, termasuk pesatnya, sehatnya dan kuatnya bisnis maskapai penerbangan di tanah air, tentunya kondisi akan lain, dan pariwisata kita khususnya akan bisa berkembang jauh lebih pesat dari yang ada sekarang. Sayang sekali, karena kemudian secara tidak sadar kita telah menyerahkan negara lain untuk menentukan nasib kita sendiri.

Saya sendiri sebenarnya mengharapkan kehadiran airport internasional kita yang benar-benar menjadi pusat transportasi regional yang diperhitungkan. Bukan sekadar membangun airport internasional yang tampaknya tidak dilakukan dalam skenario yang matang menghadapi tantangan kompetisi kawasan tadi dan lokasi yang tepat?

Mungkin sudah waktunya bagi pemerintah untuk memfokuskan diri pada strategi ini? Misalnya, mengarahkan pembangunan sejumlah airport sebagai airport internasional utama sebagai pintu gerbang lalu-lintas udara utara-selatan. Mungkin perlu studi lebih lanjut, tapi sekadar gagasan awal berdasarkan lokasinya dan aspek pendukungan lingkungan maupun daya sebarannya, kita memerlukan airport semacam itu di Sulawesi Utara (pintu utara) dan Lombok (pintu selatan) ditambah dua pintu utama lain yakni Jakarta dan Sumatera Utara-Aceh. Tentu saja hal ini bukan untuk mematikan airport internasional yang sudah ada sekarang, tapi justru memperkuatnya sebagai sekunder mengingat keterbatasan daya dukung lingkungan yang dimilikinya.

Tapi, paralel dengan langkah tersebut, industri penerbangan di dalam negeri juga harus dipacu supaya lebih sehat, kuat dan besar. Setidaknya kita berharap besar Garuda Indonesia, sebagai maskapai penerbangan pembawa bendera nasional, segera bangkit dan bukan hanya menjadi pemain kuat di tingkat nasional, tapi juga menjadi pesaing berat bagi sejumlah maskapai internasional lain di tingkat regional dan global.

Selain Garuda, kita perlu pula sebuah maskapai nasional yang fokus kepada low cost airlines, yang selain sehat, juga kuat dan besar sebagai kekuatan kedua untuk dalam negeri dan setidaknya negara Asia Tenggara.

Mungkinkah begitu? Yang jelas, harus ada upaya besar untuk memanfaatkan posisi strategis negara kita itu. Harus ada integrasi kebijakan makro pariwisata nasional dengan ambisi transportasi nasional sebagai sebuah ambisi bersama bangsa.

One thought on “Integrasi Pariwisata dan Ambisi Transportasi Nasional”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s