Faktor “Dimana” dan “Kapan” dalam Pemasaran Wisata


Oleh Jones Sirait
Pusat Analisis Informasi Pariwisata Indonesia

KEMENTERIAN Kebudayaan dan Pariwisata telah membuat arah pemasaran pariwisata Indonesia untuk tahun 2010-2014, antara lain dengan memberikan fokus pada 15 pasar yakni Australia, Singapura, Malaysia, Korea Selatan, India, Jepang, Cina, UAE, Saudi Arabia, Rusia, Jerman, Perancis, Belanda, Inggris, Amerika Serikat dan Taiwan.

Selain itu, Kemenbudpar juga strategi pemasaran dalam konteks peningkatan country image, penerapan horizontal marketing antara lain menggunakan on-line; melaksanakan integrated marketing communication, yang mencakup kegiatan public relations melalui penyebaran materi yang kuat dengan news value, melaksanakaan co-marketing, dan meningkatkan peran Visit Indonesia Tourism Office (VITO) yakni kantor-kantor yang ditunjuk mempromosikan pariwisata di 10 kota internasional. Adapun pemasaran produk wisata, akan difokuskan dengan thematic product.

Sejumlah program yang sudah disiapkan antara lain  memfasilitasi kegiatan consumer show, dan direct selling di luar negeri. Kemudian familiarization trip (Fam Trip) untuk wartawan, tokoh dan selebritis dari luar negeri ke Indonesia. Lalu pembuatan skema pemberian stimulus, melakukan publikasi destinasi pariwisata, mendorong kegiatan pariwisata dalam negeri atau wisnus, penambahan aksesibilitas udara, sertam meningkatkan kualitas pelayanan termasuk di bandara, taksi, visa on arrival, dan sebagainya.

Apa penilaian kita terhadap perencanaan ini?

Pertama-tama, tentu kita menyambut baik upaya Kemenbudpar untuk memberikan penjelasan kepada publik seputar kegiatan di lingkungan mereka, sehingga dapat dihilangkan kesan kementerian ini hanya menunggu atau bahkan “tidak berbuat apa-apa” dalam mengembangkan kepariwisataan Indonesia. Komunikasi semacam itu tentu lebih baik, namun akan lebih baik lagi jika setiap pelaksanaan program itu nanti juga disampaikan ke publik, melalui saluran media yang ada sehingga tidak pula muncul kesan “macan kertas” tapi lemah dalam implementasi.

Kedua, soal target negara pasar, menurut kami, ada sedikit kemajuan dibanding sebelumnya yang terkesan tidak keruan. Beberapa waktu lalu kami telah menganjurkan secara terbuka bahwa pemerintah memang harus memfokuskan diri pada pasar tertentu (intensifikasi) daripada melakukan ekstensifikasi yang hanya membuang-buang uang tanpa hasil yang jelas. Intensifikasi maksudnya adalah dengan menggunakan pasar yang sudah eksisting yang sudah jelas sumbernya dan tinggal diintensifkan ke negara tersebut untuk diperbesar jumlahnya.

Hal ini bergerak dari kenyataan sangat sulit untuk menarik seorang consumer (wisatawan) saat ini. Persoalan kita bukanlah bagaimana “mencuri” satu orang wisatawan dari pasar baru datang ke Indonesia, tapi bagaimana membuat 10 orang wisatawan asal negara pasar lama tertentu menjadi meningkat 12 atau 15 orang. Dari sisi anggaran lebih hemat dan kemungkinan keputusan pemilihan berwisata lebih terbuka lebih besar karena destinasi tertentu sudah lebih familiar bagi negara itu.

Kita tidak bisa mengambil semua sekaligus. Harus ada prioritas.

Menariknya, negara asal wisatawan ke berbagai destinasi di Indonesia itu memang bisa sudah membentuk pasarnya sendiri-sendiri. Bali utamanya dari Australia dan Jepang; Batam utamanya dari Singapura, Malaysia, China; Manado dari Eropa dan Amerika; Sumut dari ASEAN dan Eropa, dan seterusnya, meski tentu saja ada juga yang campur-aduk seperti Jakarta. Tentunya ini suatu hal yang positif. Dan dengan peta distribusi wisatawan semacam ini, maka kebijakan pemasaran yang harus dilakukan adalah adanya koordinasi yang kuat antara Kementerian Budpar dengan pihak dinas-dinas pariwisata di provinsi terkait dalam rangka membangun sinergi dalam melakukan pemasaran langsung ke negara pasar destinasi daerah. Kementerian Budpar jangan sampai berjalan sendirian dengan proyek-proyeknya sendiri.

Kemudian , yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah bagaimana pemerintah mengatur strategi mengenai ”where” (dimana) yakni negara pasar yang dipilih dengan strategi ”when” (kapan) yakni kapan sebaiknya sebuah proyek pemasaran itu dilakukan. Dua faktor ini sangat berpengaruh dalam kesuksesan pemasaran pariwisata. Faktor ”When” itu tentu saja bukan hanya soal kapan waktunya, tapi juga berapa lama suatu kegiatan dilakukan. Kita tidak punya data kegiatan apa saja yang akan dilakukan per tahun, namun berdasarkan pengamatan selama ini seringkali kegiatan pemasaran tidak memperhitungkan waktu itu. Bahkan sejumlah kegiatan strategis yang seharusnya bisa dilkakukan berkelanjutan akhirnya putus di tengah jalan karena dibatasi oleh masa waktu anggaran.

Lalu, kapankah waktu melakukan promosi atau penjualan ke Belanda? Kapan waktu yang tepat untuk melakukan pemasaran ke Cina? Ke Australia, ke Jepang dan seterusnya? Lalu bagaimana metode yang paling efektif atau dengan media apa? Adalah keliru jika misalnya dilakukan dalam waktu yang seragam, karena kemungkinan kurang optimal dampaknya.

Dari sisi ini memang sangat perlu keseriusan kita melakukan riset khusus, dan benar-benar memanfaatkan hasil riset itu sebagai acuan bukan meniru lagu ”aku begini, engkau begitu”. Sebagai contoh, saat musim dingin melanda Cina akhir hingga awal tahun biasanya terjadi pergerakan manusia dari sana ke berbagai negara. Faktanya juga pada bulan Februari setiap tahun jumlah wisatawan dari Cina lebih besar daripada bulan-bulan lainnya, kecuali Juni. Aspek semacam itu, tentunya, harus menjadi pertimbangan disamping melihat kalender liburan umum di negeri itu dan aspek lainnya.

Tantangan kita kemudian adalah bagaimana memanfaatkan geografi pariwisata untuk tujuan pemasaran ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s