100 HARI PEMERINTAHAN Keasyikan Berkunjung, Lupa Kerja


Suara Karya, Senin, 18 Januari 2010

JAKARTA (Suara Karya): Kinerja pemerintah di bidang pemberdayaan perempuan/ perlindungan anak, kepariwisataan, serta lingkungan hidup dalam masa seratus hari Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II, yang berakhir Februari 2010, tidak cukup mengesankan. Masing-masing seperti keasyikan melakukan kunjungan kerja ke sana kemari, sementara tindakan-tindakan lebih konkret seolah terlupakan.

Begitu juga kurang lebih di bidang kepemudaan dan olahraga. Pemerintah terkesan gamang atau tak tahu harus berbuat apa. Bahkan sekadar mencari tahu masalah-masalah yang membelit tiap cabang olahraga pun sejauh ini belum terlihat dilakukan pemerintah.

Demikian rangkuman evaluasi sejumlah kalangan mengenai kinerja pemerintah di bidang pemberdayaan perempuan/perlindungan anak, kebudayaan/kepariwisataan, dan lingkungan hidup terkait program seratus hari KIB II. Secara keseluruhan, mereka memberikan penilaian rata-rata lima terhadap kinerja pemerintah di keempat bidang itu.

Dihubungi secara terpisah di Jakarta, kemarin, mereka yang memberikan penilaian itu adalah Sekjen Komisi Nasional Perlindungan Anak Aris Merdeka Sirait, mantan Wakil Ketua MPR Mooryati Soedibyo, pemerhati pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Giwo Rubiyanto, Ketua Umum DPP Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata (Asita) Ben Sukma Nasution, Ketua Lembaga Studi Pariwisata Indonesia (LSPI) H Kodyat, pengamat kepariwisataan Jones Sirait, Ketua Institut Hijau Indonesia Chalid Muhammad, Koordinator Nasional Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Siti Maemunah, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Berry Nahdian Forqan, dan mantan pebulutangkis Icuk Sugiarto.

Dalam pandangan Aris Merdeka Sirait, di bidang pemberdayaan perempuan/perlindungan anak, pemerintah tidak memiliki program kerja yang jelas. Dia menyayangkan bahwa pemerintah seolah lupa untuk membuat gebrakan dalam masa seratus hari KIB II. Padahal banyak alasan mendesak untuk itu.

“Misalnya, belakangan ini kan banyak kasus kekerasan terhadap anak. Harusnya dibuat semacam gerakan perlawanan,” ujar Aris.

Sementara itu, Mooryati Soedibyo dan Giwo Rubiyanto memaklumi belum optimalnya kinerja pemerintah di bidang pemberdayaan perempuan/perlindungan anak ini. Mereka berdua sepakat, waktu seratus hari belum bisa dijadikan tolok ukur keberhasilan pemerintah.

Mooryati bahkan menyayangkan keterbatasan wewenang pemerintah di bidang pemberdayaan perempuan/perlindungan anak. Keterbatasan itu, katanya, membuat institusi bersangkutan bergantung pada institusi lain.

Namun, Giwo memberi catatan tentang kerja sama antarinstansi menyangkut pemberdayaan perempuan/perlindungan anak ini masih harus dibuktikan. Begitu juga dengan program pemberdayaan perempuan/perlindungan anak itu sendiri. “Waktu seratus hari tidak cukup. Masih butuh proses panjang,” katanya.

Di bidang kebudayaan/kepariwisataan, kinerja pemerintah juga dinilai sekadar jalan di tempat. Menurut Ben Sukma Nasution dan H Kodyat, program seratus hari yang dicanangkan, khususnya menyangkut kunjungan wisatawan mancanegara serta pergerakan wisatawan Nusantara masih dihadapkan pada persoalan kompleks.

Menurut Ben Sukma, pemerintah seharusnya lebih fokus pada kebijakan membangun daerah tujuan wisata dan terus menggenjot program pemasaran.

Ben mencontohkan, Kementerian Budpar acap kali mengadakan perjalanan ke luar negeri untuk mendongkrak pemasaran kepariwisataan nasional. Namun misi itu acap tidak mendapatkan hasil signifikan lantaran tidak didukung dunia swasta atau asosiasi yang profesional mungurus pemasaran.

Bagi Kodyat, pemerintah terkesan hanya memanjakan Bali untuk menyedot wisatawan mancanegara. “Daerah lain cenderung kurang diperhatikan. Padahal potensinya tak kalah. Akibatnya, perkembangan kepariwisataan di daerah-daerah lain lamban dan kurang dikenal sampai dunia luar,” katanya.

Sementara itu, Jones Sirait menilai pemerintah melupakan prinsip manajemen dalam menggulirkan program kepariwisataan ini. “Sejak tahun 2005, banyak program pemerintah yang dilempar ke publik. Tapi kemudian tak jelas kabarnya dan tidak pernah terdengar hasil evaluasinya. Padahal, itu sangat penting untuk mengetahui letak kekuatan dan kelemahan untuk pembelajaran tahun berikutnya. Pelaksanaan VIY 2008, misalnya, sejauh ini belum dievaluasi. Tapi langsung saja menggelar VIY 2009,” katanya.

Di bidang lingkungan hidup, dalam masa seratus hari KIB II ini pemerintah malah terkesan bingung. Menurut Chalid Muhammad, pemerintah seperti tidak punya prioritas, termasuk dalam memainkan peran penting seperti amanat UU Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Chalid mencontohkan, pada momen koferensi perubahan iklim di Kopenhagen, Denmark, yang baru lalu, pemerintah tidak terlihat berperan.

Menurut Berry Nahdian Forqan, itu salah satu cermin ketidakmampuan Indonesia di bidang lingkungan hidup. “Padahal kalau saja Indonesia bisa mengegolkan Bali Road Map, paling tidak bisa dihasilkan kesepakatan yang mengikat negara-negara maju untuk menurunkan emisi karbon,” katanya.

Terkait itu pula, Siti Maemunah mengingatkan, UU Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup merupakan modal bagi pemerintah untuk melakukan penyidikan dan memberi sanksi bagi pelanggar pengelolaan lingkungan hidup. Tapi, katanya, modal itu seolah disia-siakan.

Di bidang kepemudaan dan olahraga, pemerintah juga belum menorehkan gebrakan yang menjanjikan peningkatan prestasi. “Menpora masih sekadar menjalankan program menteri lama,” ujar Icuk Sugiarto. Karena itu pula, katanya, keberhasilan Indonesia memperbaiki peringkat di SEA Games 2009 Laos jelas bukan prestasi Menpora baru.

Menurut Icuk, pemerintah terlihat belum punya konsep hendak dibawa ke mana arah olahraga prestasi Indonesia saat ini. “Menpora masih meraba-raba tentang apa yang akan dia kerjakan,” katanya.

Icuk mengkritik Menpora terkesan tidak berupaya mencari tahu persoalan-persoalan yang melilit sejumlah cabang olahraga unggulan. Menurut dia, Menpora masih berkutat dengan laporan KONI/KOI, tanpa mencari konfirmasi langsung ke tiap cabang olahraga. (Budi Seno/Sadono Priyo/Wem Fauzi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s