Tantangan Pariwisata Indonesia 2011, Galakkan Berwisata ke Dalam Negeri

Posted on Updated on


Oleh Pusat Analisis Informasi Pariwisata

JAKARTA- Singapore Tourism Board (STB), Kamis (10/2), mengumumkan jumlah kunjungan wisatawan ke Singapura yang mengalami peningkatan sekitar 20 persen, dari 9,7 juta tahun 2009 menjadi 11,6 juta orang tahun 2010. Menariknya, dari jumlah itu, peningkatan jumlah kunjungan wisatawan asal Indonesia meningkat besar sekitar 32 persen dari 1.745.000 orang pada 2009 menjadi 2.305.000 orang pada tahun 2010. Peningkatan itu cukup signifikan, mengingat pada tahun 2008 ke 2009 sempat mengalami penurunan sekitar 1 persen.

Jumlah itu mengukuhkan Indonesia menjadi penyumbang wisatawan nomor 1 terbanyak ke Singapura, mengalahkan China (1.171.000), Australia (1.037.000), Malaysia (880.000) dan India (829.000).

Tak hanya Singapura, Indonesia juga ternyata masih menjadi penyumbang utama kedua ke Malaysia tahun 2010 lalu. Data yang diperoleh dari tourism.gov.my, wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Malaysia pada tahun 2010 mulai Januari-November berjumlah 2.247.938 orang, dan diperkirakan mencapai 2,5 juta -2,6 juta orang jika ditambah bulan Desember 2010. Jumlah ini mengalami kenaikan dibandingkan tahun 2009 yang berjumlah 2.405.360 orang.

Sebagai perbandingan, jumlah total kunjungan wisatawan asing ke Malaysia tahun 2009 berjumlah 24 juta orang.

Jumlah ini sangat timpang dengan jumlah wisatawan asal Singapura dan Malaysia yang berkunjung ke Indonesia pada tahun 2009 dan 2010. Belum lama ini, BPS mengumumkan jumlah kunjungan wisatawan asing ke Indonesia tahun 2010 sebanyak 7 juta, dan target 2011 adalah 7,5 juta; jauh lebih kecil dibandingkan target Malaysia yang sudah menargetkan 25 juta dan Singapura 12 juta orang.

Terjadi ketimpangan neraca perjalanan antara Indonesia, Singapura dan Malaysia dengan hasil minus bagi Indonesia. Sebagai perbandingan, jumlah wisatawan Malaysia ke Indonesia tahun 2009 tercatat 1.179.366 orang, sedangkan wisatawan Singapura ke Indonesia 1.272.862 orang. Sementara dalam hubungan Singapura dengan Malaysia, ternyata Malaysia jauh lebih menikmati lebih banyak wisatawan Singapura, daripada wisatawan Malaysia ke Singapura.

Sebagai contoh untuk tahun 2009, wisatawan Singapura yang ke Malaysia (sebagaimana klaim Malaysia berjumlah 12.733.082 orang  (lihat di sini)

orang (harap dicatat jumlah penduduk Singapura hanya 5 juta, logikanya mungkin frekuensi kunjungan yang sering), sedangkan wisatawan Malaysia ke Singapura 764.000 orang.

Jika angka itu benar maka hal itu menjadi sinyal buruk bagi destini wisata dalam negeri, yang hingga kini terengah-engah menanti kunjungan wisatawan mancanegara. Hal ini kita katakan tanpa bermaksud untuk menafikan peran industri perjalanan termasuk penerbangan yang pada satu sisi mendapat keuntungan dari penjualan wisata outbound.

Ada yang bertanya betulkah dengan semakin banyaknya wisatawan asal Indonesia berkunjung ke destinasi luar negeri sebagai bentuk kegagalan kita dalam membangun destinasi wisata dalam negeri. Mengapa orang kita lebih bangga kalau berwisata ke Singapura, Kuala Lumpur, Thailand, daripada ke Bali, Lombok, Manado, Bangka Belitung, misalnya? Apa yang salah dengan destinasi-destinasi kita itu? Bukankah ini harus menjadi pertanyaan penting yang harus dijawab otoritas pariwisata kita secara nasional maupun daerah?

Ketika kita kurang berhasil melakukan promosi yang benar untuk mendatangkan wisatawan asing ke destinasi unggulan kita, kita juga terkesan membiarkan destinasi wisata di dalam negeri berkembang alami tanpa dorongan kuat untuk memberikan identitas kuat sebagai destinasi yang layak dikunjungi; dan sekaligus kurang memberikan dorongan bagi wisatawan nusantara untuk lebih banyak berkunjung ke sana.

Dalam konteks ini, kita lebih sibuk bicara wisatawan intra-ASEAN, intra-Pasific dan seterusnya, tapi tidak menaruh perhatian lebih pada sesuatu yang lebih riil yang menghidupkan industri pariwisata kita yakni pariwisata intra-Indonesia atau intra-Nusantara.

Pada sisi lain, kita tidak memiliki cukup kecerdasan untuk mengelola isu ini menjadi sesuatu yang lebih riil kecuali sekadar slogan dan membualkan potensi-potensi.

Pada sisi lain, Thailand berhasil mengukuhkan destinasi dalam negeri mereka di luar Bangkok, Phattaya, atau Phuket, tapi juga melebar ke Thailand Tengah, Timur, Utara hingga Selatan. Malaysia berhasil mengembangkan destinasi di luar Kuala Lumpur, Penang, atau Melaka, tapi sudah melebar ke  Langkawi, Johor, Pahang, Terengganu, Sarawak, Sabah, hingga Sipadan. Dan Singapura, yang karena terbatasnya tanah, mereka sukses melakukan pengembangan objek wisata baru yang tematik, seperti komplek kasino Resorts World Sentosa, yang di dalamnya juga terdapat taman bertema film, Universal Studios. Setelah itu disusul Las Vegas Sands yang membuka Marina Bay Sands, terdapat hotel dengan atap perahu Skypark, dan lainnya.

Pertanyaan kita: Indonesia sudah melakukan apa? Sepanjang dua dekade terakhir kita masih belum bergeser dari Bali. Dan apesnya, Bali sendiri belum cukup terbantu untuk memperoleh lebih dari apa yang paling optimum yang bisa diraihnya dibandingkan dengan destinasi lain di negara tetangga.

Dalam era kompetitif saat ini, kita ternyata belum mampu menunjukkan kinerja yang baik dalam mengintegrasikan pembangunan destinasi dan pemasaran destinasi menjadi sebuah politik dan ekonomi kebijakan yang nyata.

Karena itu tahun 2011 ini, kita berharap pemerintah pusat dan daerah diharapkan mampu mendorong pemasaran dalam negeri ini lebih agresif, memberikan dorongan baru untuk mempermudah mobilisasi wisatawan nusantara itu, dan mendorong pertumbuhan destinasi secara lebih agresif dan nyata. []

About these ads

One thought on “Tantangan Pariwisata Indonesia 2011, Galakkan Berwisata ke Dalam Negeri

    princeward90 said:
    17/02/2012 at 1:10

    Di Indonesia Wisata alam sangatlah di tonjolkan, tanpa memberikan penyajian gedung, teknologi yang memadai.. akses jalan yg buruk. penginapan yang tdk seperti yg bisa kita dapat kl berlbr di negara org.. tidak ada marina bay versi indo (yg memiliki gedung yg berseni dan berkelas), liburan hanya mal.. mal dan mal… (milik swasta) monas ma gedung kembar malay bisa anda liat sendr perbedaannya. Patung singa di SG menjadi kebanggan selain kebersihan kotanya.. MRT, Bus lengkap keterangan yg lengkap, Fasilitas umum yg bersih praktis dan berbahasa internasional membuat negara lain lbh banyak di kunjungi wisatawan.. Perawatan dan pembangunan taman, tempat yang menarik memiliki nilai seni dan keunikan yg tinggi sangat kurang.. lagi2 alam saja.. alam yang sudah memang ciptaan Tuhan, tanpa di sentuh dan diperindah oleh pemerintah agar bisa lbh nyaman dan lbh terlihat mahal serta patut di kunjungi… semoga Pemerintah bisa melihat kl keindahan alam kita sangat perlu didukung dengan fasilitas akses, penginapan dan tata kota yg lbh teratur dan aman.. terutama terawat…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s