Bagaimana Menghitung Jumlah Wisatawan Nusantara?

Posted on Updated on


Oleh Pusat Analisis Informasi Pariwisata

Hingga kini, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) tak henti mengklaim jumlah wisatawan nusantara kita mengalami peningkatan, baik jumlahnya maupun pengeluaran wisatawan. Dari data yang diberikan Kemenbudpar, jika tahun 2001 ada 103.884 orang wisatawan nusantara dengan pengeluaran Rp324.580, maka pada tahun 2007 jumlahnya sudah mencapai 116,1 juta orang dengan pengeluaran rata-rata Rp406.000 sehingga total jenderal pengeluarannya adalah Rp79,85 triliun

Tapi, pertanyaannya adalah dari mana Kemenbudpar memperoleh angka-angka ini? Bagaimana cara menghitungnya? Apa definisi ”wisatawan nusantara” yang dipakai?

Dalam Undang-Undang No10/2009 tentang Kepariwisataan dikatakan “wisatawan adalah orang yang melakukan wisata”, tanpa menjelaskan secara rinci apa yang dimaksudkan dengan wisatawan nusantara. Definisi juga tidak bisa kita temukan dalam konsep dan definisi statistik pada website Kemenbudpar dengan alamat http://www.budpar.go.id/page.php?ic=521&id=3046. Hal yang sama juga tidak ditemukan pada Badan Pusat Statistik (BPS) lihat http://www.bps.go.id/aboutus.php?id_subyek=16&tabel=1&fl=2.

Definisi yang dipublikasikan Kemenbudpar hanya terkait definisi ”wisatawan” yang disebutnya sebagai berikut: ” Definisi wisatawan ini ditetapkan berdasarkan rekomendasi International Union of Office Travel Organization (IUOTO) dan World Tourism Organization (WTO). Wisatawan adalah seseorang atau sekelompok orang yang melakukan perjalanan ke sebuah atau beberapa negara di luar tempat tinggal biasanya atau keluar dari lingkungan tempat tinggalnya untuk periode kurang dari 12 bulan dan memiliki tujuan untuk melakukan berbagai aktivitas wisata. Terminologi ini mencakup penumpang kapal pesiar (cruise ship passenger) yang datang dari negara lain dan kembali dengan catatan bermalam”.

Menariknya dalam tabel yang disuguhkan Kemenbudpar disebutkan catatan: 1. Pengeluaran per perjalanan adalah rata-rata tertimbang dari setiap provinsi, 2. Sumber: Pusat Pengelolaan Data dan Sistem Jaringan (P2DSJ). Apa maksudnya “rata-rata tertimbang dari setiap provinsi”? Apakah artinya kualitatif atau “kira-kira”?

Dalam ”Konsep dan Definisi Statistik” yang ditampilkan BPS acuannya juga adalah rekomendasi WTO dan International Union of Office Travel Organization, yang menyebut definisi tamu manca negara adalah setiap orang yang mengunjungi suatu negara di luar tempat tinggalnya, didorong oleh satu atau beberapa keperluan tanpa bermaksud memperoleh penghasilan di tempat yang dikunjungi. Definisi ini mencakup dua kategori tamu mancanegara, yaitu :

Wisatawan (tourist) adalah setiap pengunjung seperti definisi di atas yang tinggal paling sedikit dua puluh empat jam, akan tetapi tidak lebih dari enam bulan di tempat yang dikunjungi dengan maksud kunjungan antara lain: a. berlibur, rekreasi dan olahraga; bisnis, mengunjungi teman dan keluarga, misi, menghadiri pertemuan, konferensi, kunjungan dengan alasan kesehatan, belajar, dan keagamaan.

Pelancong (excursionist) adalah setiap pengunjung seperti definisi di atas yang tinggal kurang dari dua puluh empat jam di tempat yang dikunjungi (termasuk cruise passenger yaitu setiap pengunjung yang tiba di suatu negara dengan kapal atau kereta api, dimana mereka tidak menginap di akomodasi yang tersedia di negara tersebut).

Lalu bagaimana dengan ”wisatawan nusantara”? Samakah dia dengan ”Domestic Tourist” (wisatawan domestik) atau dia hanya pantas dipadankan dengan ”wisatawan lokal”?

Sebenarnya jika ditelusuri, ada beberapa jenis wisatawan berdasarkan sifat perjalanannya. Ada istilah wisatawan asing (foreign tourist) yang akrab dengan terminologi Indonesia, “wisatawan mancanegara” (wisman), kemudian ada istilah ”domestic foreign tourist” (wisman domestik), ”domestic tourist” (wisatawan nusantara, dan ” Indigenous Foreign Tourist” (wisman pribumi?), ”transit tourist” (wisatawan transit/ singgah/ lintas). Selain itu, saya kira ada juga ”local tourist” (wisatawan lokal), sebagai satu pembanding dari wisatawan nusantara/domestik (domestic tourist).

Jika wisman adalah orang asing yang melakukan perjalanan wisata, yang datang memasuki suatu negara lain yang bukan merupakan negara di mana biasanya tinggal, maka wisman domestik adalah orang asing yang berdiam atau bertempat tinggal di suatu negara karena tugas, dan melakukan perjalanan wisata di wilayah negara di mana ia tinggal. Ini kebalikan dari wisman pribumi yakni warga negara suatu negara tertentu yang karena tugasnya atau jabatannya berada di luar pulang ke negara asalnya dan melakukan perjalanan wisata di wilayah negaranya sendiri. Sedangkan wisatawan transit adalah wisatawan yang sedang melakukan perjalanan ke suatu negara tertentu, yang terpaksa mampir atau singgah pada suatu bandar udara/ pelabuhan laut/stasiun bukan atas kemauannya sendiri.

Maka wisatawan domestik dapat disebut sebagai wisatawan yang melakukan perjalanan wisata dalam batas wilayah negaranya sendiri. Wisatawan ini melakukan perjalanan wisata minimal 24 jam dan tidak dimaksudkan untuk tinggal menetap di daerah yang dituju.

Tapi pengertian ini juga dirasakan belum mampu untuk mengenali dan menjadikannya terukur. Misalnya, ketika kita mencoba untuk membuat statistik kunjungan. Seorang warga Pasar Minggu (Jakarta) yang melakukan perjalanan wisata ke Ancol (Jakarta) dan menginap di sana, apakah itu masuk wisatawan nusantara atau hanya wisatawan lokal (bukan antar-provinsi tapi dalam provinsi)? Atau jika seseorang warga Jakarta pergi ke Bali dengan menggunakan pesawat untuk menjemput barangnya yang ketinggalan di hotel, apakah dia akan dihitung sebagai dua kali sebagai wisatawan?

Problemnya lainnya, misalnya, bagaimana mendata kunjungan wisatawan nusantara ini secara lebih mendekati kebenaran di lapangan? Apakah semua penumpang pesawat dari satu daerah ke daerah lain bisa disebut wisatawan nusantara? Begitu juga dengan penumpang angkutan darat antarprovinsi, bagaimana mendata penumpang wisatawan maupun non-wisatawan? Apakah jumlah pengunjung suatu objek wisata dijadikan patokan? Jika ya, bagaimana bisa membedakan mereka wisatawan dari lokal atau dari luar provinsi? Pihak BPS di daerah sudah pernah mengatakan sulit untuk mendata itu, sehingga mereka tidak mengeluarkan data wisatawan nusantara. Bisakah “dipatok” wisatawan nusantara itu hanya bagi yang menggunakan fasilitas wisata minimal akomodasi dan transportasi lokal?

Kita tidak ingin memperumit persoalan, tapi sekadar saran, Kemenbudpar perlu untuk meredefinisi wisatawan nusantara (jika memang sudah ada), sehingga lebih bisa diukur. Kita tak perlu malu dengan angka yang sudah terlanjur disebut, tapi hal itu akan lebih sehat ke depannya. Kemudian, sebaiknya Kemenbudpar juga mengadakan survei tahunan wisatawan nusantara ini secara lebih komprehensif, sehingga angka-angkanya bisa lebih transparan, entah dengan melibatkan BPS, dinas-dinas daerah, kementerian dan dinas-dinas perhubungan, maupun lembaga-lembaga lain.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s